Postingan

Belajar bersama di lapangan

Gambar
Menjadi Mentor Calon Kepala Sekolah: Belajar Bersama dari Lapangan Kedatangan tamu calon kepala sekolah dari Kota Serang, Banten, menjadi pengalaman berharga bagi saya. Selama enam hari, saya mendapat amanah dari Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan untuk menjalankan tugas dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Banten. Tugas itu adalah mendampingi enam calon kepala sekolah yang melakukan kunjungan pembelajaran ke sekolah saya, SDN Bambu Apus 01, Pamulang. Hari pertama, bersama dewan guru, saya menyiapkan materi yang akan disampaikan di hadapan para calon kepala sekolah. Harapannya, setelah tatap muka langsung, mereka mampu meningkatkan kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi akademik, serta sosial. Kunjungan ini memang dirancang untuk memberikan pengalaman nyata, bukan hanya teori. Setiap sekolah yang ditunjuk penyelenggara diklat menerima enam peserta calon kepala sekolah. Mereka didampingi oleh satu kepala sekolah mentor. Sebelum kegiatan ...

Pilihlah Teman Yang Membawa Kebaikan

  “Pilihlah teman yang membawa kebaikan”Kalimat sederhana ini menyimpan pesan mendalam: berhati-hatilah dalam menentukan lingkungan pergaulan. Teman bukan sekadar orang yang hadir di sekitar kita. Mereka memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, sikap, dan kebiasaan kita. Bila kita berteman dengan orang yang berniat baik, jujur, dan hidup dengan nilai positif, maka kita pun terdorong menapaki jalan yang sama. Sebaliknya, bila kita bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, kita bisa ikut hanyut dalam arus yang salah. Karena itu, kita harus bijak dalam memilih teman. Setidaknya ada tiga hal yang patut diperhatikan: Bijak memilih lingkungan .   karena kualitas hidup sangat dipengaruhi oleh siapa yang dekat dengan kita. Mencari teman yang menguatkan .   mereka yang memberi semangat, nasihat, dan teladan baik. Menjaga diri dari pengaruh buruk .   agar tidak mudah terjebak dalam kebiasaan atau perbuatan yang merugikan. ...

Selalu Ada Waktu Tepat.

  Dalam hidup, kita sering merasa ingin segera sampai pada tujuan. Ada kalanya usaha sudah maksimal, tetapi hasil tak kunjung terlihat. Saat itulah muncul rasa cemas, tergesa-gesa, bahkan putus asa. Namun, sesungguhnya setiap hal memiliki waktunya sendiri. Ada “waktu tepat” yang tak bisa dipercepat atau diperlambat.Kesempataan akan datang untuk setiap orang,Ketika waktu itu tiba semua akan berjalan sesuai dengan harapan. Menanti dengan Sabar Tergesa-gesa hanya membuat langkah goyah. Seperti benih yang dipaksa tumbuh sebelum waktunya, hasilnya tidak akan sempurna. Kesabaran mengajarkan kita bahwa proses adalah bagian penting dari perjalanan. Dengan bersabar, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk belajar dan matang. Jangan Biarkan Putus Asa Menguasai Putus asa adalah pintu tertutup yang kita buat sendiri. Padahal harapan selalu ada, meski jalannya berliku. Selama kita mau mencoba lagi, kesempatan tetap terbuka. Putus asa hanya membuat kita berhenti sebelum waktunya, seme...

Olah Raga Satukan Kita

Gambar
Pagi ini, 18 September 2025, semarak Hari Olahraga Nasional terasa berbeda di UPTD SDN Pamulang 01. Ratusan siswa, guru, dan perwakilan sekolah negeri maupun swasta dari seluruh Kecamatan Pamulang antusias mengikuti lomba “Senam Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Kegiatan yang digelar BAPOPSI Kecamatan Pamulang ini diikuti oleh 38 sekolah. Sejak pagi, suasana penuh semangat terlihat jelas di lapangan. Tak hanya menjadi ajang perlombaan, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menumbuhkan minat, bakat, sekaligus membentuk karakter anak sejak dini melalui olahraga. Sambutan dan Pembukaan Acara Acara dibuka dengan sambutan Ketua BAPOPSI Kecamatan Pamulang, Pujo Widodo, yang menekankan pentingnya olahraga sebagai bagian dari pembinaan generasi muda. Sambutan berikutnya disampaikan Kepala SDN Pamulang 01, sekaligus perwakilan Ketua K3S Pamulang oleh ibu Sutiyah, yang secara resmi membuka kegiatan. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, memohon kelancaran serta kesu...

Seragam Sekolah: Antara Identitas Kesetaraan dan Beban Orang Tua

  Perdebatan tentang seragam sekolah selalu menjadi isu menarik. Ada yang menilai seragam membatasi kebebasan siswa dalam mengekspresikan diri. Namun, ada pula yang melihat seragam sebagai simbol identitas sekolah sekaligus penanda kesetaraan sosial. Setiap sekolah memang memiliki kewenangan untuk mengatur seragam khas mereka. Motif, warna, hingga aturan penggunaannya menjadi bagian dari identitas sekolah. Sayangnya, masih banyak yang belum disadari masyarakat: seragam itu tidak sepenuhnya “gratis”. Biaya pengadaan sering kali menjadi beban tambahan, padahal aturan seragam tidak seharusnya memberatkan orang tua secara finansial. Aturan Resmi Seragam Nasional Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022 mengatur penggunaan seragam nasional pada hari Senin dan Kamis. Selain itu, pada hari upacara bendera, siswa diwajibkan mengenakan seragam sesuai jenjang, lengkap dengan atribut seperti topi, dasi, bed, dan logo Tut Wuri Handayani . Meski begitu, sekolah tetap memiliki ruang untuk ...

Berbeda Bukan Terpisah,Justru Menguatkan

  Di dalam kehidupan, kita sering menemukan cerita tentang bagaimana menempatkan diri di tengah lingkungan yang penuh perbedaan. Dunia kerja, misalnya, selalu melahirkan beragam ide. Kadang, ide yang kita anggap brilian belum tentu diterima semua orang. Kita harus siap menerimanya. Yang pasti, setiap gagasan dari rekan kerja pun memiliki keterhubungan dengan apa yang kita pikirkan. Semua itu saling terkait demi kemajuan bersama. Hidup memang selalu menghadirkan perbedaan. Kita lahir dari latar keluarga, budaya, keyakinan, bahkan cara berpikir yang tidak sama. Perbedaan itu nyata, dan sering kali membuat kita merasa terpisah. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ada benang halus yang mengikat: keterkaitan sebagai sesama manusia. Perbedaan bukan alasan untuk menjauh. Justru di dalam perbedaan itulah kita belajar menghargai, mendengar, dan memahami. Seperti warna dalam lukisan, setiap warna berdiri sendiri, tetapi ketika bersatu melahirkan harmoni indah. Tanpa perbedaan, hidup tera...

Cermin Sikap Terhadap Sesama

  Orang mulia terlihat dari caranya memuliakan orang lain. Orang rendah terlihat dari caranya merendahkan orang lain.” Kalimat sederhana ini menyimpan pesan moral yang kuat tentang nilai diri dan sikap kita terhadap sesama. Orang Mulia Kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh harta, jabatan, atau status sosial. Ia tercermin dari cara seseorang menghargai, menghormati, dan mengangkat martabat orang lain. Orang mulia tidak merasa lebih tinggi, justru berusaha membuat orang di sekitarnya merasa berarti. Ia yakin, kemuliaan tidak berkurang meski ia menunduk untuk menghormati. Orang Rendah Sebaliknya, orang rendah bukan rendah hati, melainkan hina—tampak dari kebiasaannya merendahkan orang lain. Mereka mencari nilai diri dengan menjatuhkan sesama. Sikap ini lahir dari hati yang kosong, iri, dan kurang percaya diri. Alih-alih membangun dirinya, mereka memilih mengukur kebesaran dengan memperkecil orang lain. Makna Reflektif Kalimat ini mengajarkan bahwa ukuran kepribadian bu...