Ketika hati belajar percaya di tengah ketidakpastian
“Ya Allah, sesungguhnya hatiku penuh dengan keraguan dan kekhawatiran, tetapi Engkau selalu lebih besar dari apa pun. Maka aku titipkan segala kekhawatiran pada-Mu.” Kalimat ini sederhana. Namun, ia menyimpan kejujuran yang dalam. Sebuah pengakuan batin yang sering kita rasakan, tetapi jarang kita ungkapkan dengan utuh. Di balik doa itu, ada manusia yang sedang lelah. Ada hati yang sedang berjuang menenangkan diri. Ada pikiran yang penuh tanda tanya. Bagian pertama berbunyi, “Ya Allah, sesungguhnya hatiku penuh dengan keraguan dan kekhawatiran…” Ini adalah bentuk kesadaran diri. Kita mengakui bahwa hati tidak selalu kuat. Ada rasa ragu, takut, dan cemas. Itu bukan kelemahan. Itu adalah kejujuran. Tidak semua orang berani mengakui kondisi batinnya sendiri. Padahal, dari situlah proses pemulihan dimulai. Lalu kalimat itu berlanjut, “…tetapi Engkau selalu lebih besar dari apa pun…” Di sinilah titik baliknya. Dari gelisah menuju percaya. Dari sempit menuju lapang. Keyak...