Saat Diam Menjadi Aduan Kepada Allah
Ada orang yang memilih diam saat disakiti. Ia tidak membalas, tidak melawan, bahkan tampak seolah baik-baik saja. Namun, di balik diam itu, ada riuh yang tak terlihat. Riuh dalam doa. Riuh dalam tangis yang hanya ia bawa ke hadapan Allah. Ia memeluk lukanya sendirian. Lalu, di atas sejadah, ia menyebut satu per satu perlakuan yang ia terima. Ia tidak berteriak kepada manusia, tetapi mengadukan segalanya kepada Tuhan. Di situlah suara yang tak terdengar manusia justru menjadi paling kuat. Diamnya bukan tanda lemah. Justru di situlah letak kekuatannya. Ia memilih tidak membalas, tetapi menyerahkan urusan kepada Yang Maha Adil. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai ucapan dan tindakan kita melukai orang lain hingga ia memilih berbicara kepada Allah tentang kita. Sebab doa orang yang tersakiti bukan sekadar keluhan. Ia lahir dari hati yang benar-benar terluka, jujur, dan tanpa kepura-puraan. Dalam kondisi seperti itu, doa menjadi sangat kuat. Ia di...