Postingan

Ketika Pembelajaran Gagal !

  Banyak pembelajaran gagal bukan karena materinya terlalu sulit, tetapi karena ruang sosialnya terlalu sempit. Murid takut salah, takut diejek, dan takut dianggap lambat. Di ruang belajar seperti ini, murid tidak merasa aman menjadi dirinya sendiri. Ketakutan membuat mereka memilih diam daripada mencoba. Proses belajar pun berhenti bahkan sebelum benar-benar dimulai. Ruang sosial yang sempit membunuh keberanian bertanya dan bereksperimen. Kesalahan diperlakukan sebagai aib, bukan bagian alami dari belajar. Padahal, belajar selalu dimulai dari ketidaktahuan. Ketika kelas tidak memberi rasa aman, murid belajar untuk bertahan. Bukan untuk berkembang. Akibatnya, materi yang sebenarnya dapat dipahami justru terasa berat dan menakutkan. Pembelajaran membutuhkan ruang sosial yang luas dan manusiawi. Murid perlu merasa dihargai, didengar, dan diterima dalam prosesnya. Lingkungan belajar yang aman membuat murid berani salah dan mau mencoba lagi. Dari sanalah pemahaman tumbuh perlahan, ...

Guru di Tengah Badai Zaman

  Bertahan di antara Nurani,media sosial dan hujatan publik Zaman berubah dengan kecepatan yang tak memberi jeda. Perubahan itu menyeret dunia pendidikan masuk ke pusaran baru. Guru hidup di tengah arus teknologi dan ekspektasi publik. Teknologi mengubah cara belajar dan berkomunikasi. Ruang kelas tak lagi dibatasi dinding sekolah. Peran guru pun meluas, bukan sekadar pengajar, tetapi penuntun nilai. Media sosial menghadirkan ruang publik tanpa batas. Siapa pun bisa menilai, mengkritik, bahkan menghakimi. Sering kali tanpa konteks dan tanpa penelusuran kebenaran. Potongan informasi berubah menjadi vonis sepihak. Di era ini, guru menghadapi tekanan ganda. Mengajar dengan nurani, sekaligus menjaga citra digital. Kesalahan kecil bisa membesar tanpa ruang klarifikasi. Padahal kebenaran menuntut proses, bukan asumsi. Hujatan kerap lahir dari ketidaktahuan. Kompleksitas dunia pendidikan jarang dipahami utuh. Guru bekerja bukan hanya dengan pikiran, tetapi juga peras...

Saat anakku di Wisuda,Aku Belajar Tentang Iklas dan Harapan

Gambar
Setiap orang tua pasti memahami rasanya. Bahagia yang tiba-tiba penuh. Waktu seakan berlari terlalu cepat. Saat kabar wisuda itu datang, hatiku bergetar. Anak bungsuku memberi tahu dengan suara tenang. Sebulan lagi, katanya, ia akan diwisuda. Sebagai ibu, bahagia itu sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar kabar kelulusan. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh doa. Anakku menempuh pendidikan di Universitas Negeri Semarang. UNNES, tempat ia belajar, bertumbuh, dan menempa diri. Mendengar kabar itu, aku dan anak keduaku langsung bersiap. Kami pergi ke Thamrin City. Mencari kebaya dan perlengkapan wisuda. Langkah kami ringan, hati kami penuh harap. Saat hari itu tiba, aku berdiri dengan dada penuh rasa. Bukan hanya bangga, tetapi juga terharu. Di momen itu, aku belajar tentang ikhlas dan harapan. Aku teringat hari-hari panjang mendampingi langkahnya. Bangun pagi, lelah, dan doa yang tak pernah putus. Semua dijalani tanpa perhitungan, hanya cinta. Ketika toga disematk...

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna

Gambar
  Malam ini terasa berbeda. Lelah seharian justru berubah menjadi rasa hangat. Kegiatan Market Day dan Gelar Karya di SDN Bambu Apus 01 meninggalkan kesan mendalam. Acara ini bukan sekadar agenda sekolah. Ia menjadi ruang perjumpaan antara karya, proses, dan nilai kehidupan. Anak-anak, guru, dan wali murid larut dalam suasana meriah. Kegiatan diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6. Sebanyak 18 stan berdiri penuh warna dan kreativitas. Ada karya, ada transaksi, ada pembelajaran nyata. Tema “Berkarya dengan Hati, Belajar dengan Makna” bukan sekadar slogan. Ia menjadi napas dari seluruh rangkaian kegiatan. Berkarya dengan hati berarti mencipta dengan ketulusan. Bukan menggugurkan kewajiban. Ada empati, tanggung jawab, dan kepedulian. Karya lahir dari niat baik, bukan sekadar mengejar penilaian. Hasilnya mungkin sederhana, tetapi terasa jujur dan bernilai. Belajar dengan makna menekankan proses. Bukan hafalan. Belajar dipahami sebagai pengalaman hidup. Ilmu dikai...

Saat Kesabaran Menemukan Balasannya,

  “Sabarmu akan terbayar. Lelahmu akan hilang. Sakitmu akan sembuh.” Kalimat itu mengingatkan kita pada satu hal penting: Tuhan tidak pernah menutup mata. Setiap jerih payah akan kembali dengan balasan yang tepat. Setiap kesabaran menyimpan nilai. Tidak ada lelah yang berdiri selamanya. Perjuangan untuk bertahan, baik di tengah kerja berat maupun ujian batin, selalu memiliki ujung. Luka yang menusuk hari ini pun tidak menetap. Ada waktu ketika sakit mereda dan jiwa kembali tegak. Pesannya sederhana namun kuat. Jangan merasa perjuanganmu lenyap begitu saja. Tidak ada usaha yang terbang ke udara. Setiap langkah disaksikan. Setiap ikhtiar dicatat. Keyakinan itulah yang menjaga kita tetap waras saat hari-hari terasa gelap. Ungkapan ini juga mengajak kita merawat harapan. Tetap bergerak. Tetap berbuat baik. Tetap jujur pada nilai hidup yang kita pegang. Sebab balasan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kadang ia datang sebagai ketenangan. Kadang ia hadir sebaga...

Hidup Bukan Tentang Sempurna ,tapi Tentang Bertahan dan Bertumbuh

Gambar
dokumen pribadi Untuk Ade Suci, Sibungsu lulus Sarjana, dari Fakultas Ilmu Sosial Politik. Universitas Negeri Semarang dengan nilai 'Cumlaude' Alhamdulillah. Selamat ya Ade Suci Si cantik Mama, Ayah. Yang teguh dan penuh semangat. Semoga Ilmu Ade bermanfaat nanti bagi banyak orang dan bisa mengejar cita-cita dan karier. Ade.. Ayah& Mama sangat bangga sama kamu.“Jangan malu berubah jadi lebih baik” adalah pernyataan kesadaran. Perubahan bukan aib. Ia tanda keberanian menatap kekurangan diri. Orang yang mau berubah sedang bertumbuh. Ia tidak mengkhianati masa lalu, tetapi memperbaiki arah hidup. Kalimat “Surga bukan untuk orang sempurna, tapi yang berusaha” menegaskan hakikat manusia. Tidak ada manusia tanpa salah. Kesempurnaan bukan syarat utama.Yang dinilai adalah ikhtiar, taubat, dan kesungguhan memperbaiki diri.Pesan ini mengajak berhenti menunggu sempurna.Mulailah melangkah, meski masih tertatih. Nilai hidup terletak pada usaha, bukan citra tanpa cela.Pandangan ini t...

Sekolah Hebat Dimulai dari Guru Hebat

    Apa Saja TandaCiri-ciri guru yang ingin sekolahnya berkembang , Berikut penjelasan makna dari “Ciri-ciri guru yang ingin sekolahnya berkembang” dalam bentuk uraian yang jelas, ringkas, dan bernuansa reflektif. Kalimat itu merujuk pada sikap dan perilaku guru yang tidak hanya mengajar, tetapi ingin membawa sekolahnya maju. Guru seperti ini melihat sekolah sebagai rumah bersama. Ia sadar bahwa kualitas sekolah tidak ditentukan oleh kepala sekolah saja. Ia paham bahwa perubahan terjadi ketika setiap guru mengambil peran. Ciri-ciri itu biasanya tampak dari beberapa hal: Ia terus belajar. Ia memperbarui cara mengajar. Ia tidak berhenti pada metode lama. Ia ingin murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik. Ia aktif terlibat. Ia tidak hanya hadir di kelas. Ia hadir dalam kegiatan sekolah. Ia peduli pada program yang mendorong kemajuan bersama. Ia mau bekerja sama. Ia tidak berjalan sendiri. Ia berbagi praktik baik....