Berhenti Membandingkan,Mulai Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Membandingkan diri dengan orang lain tak pernah benar-benar selesai. Selalu ada yang lebih cepat berhasil. Selalu ada yang lebih mapan dan lebih dipuji. Jika hidup terus diukur dari capaian orang lain, kita mudah merasa kurang. Padahal setiap orang berjalan di garis waktunya sendiri. Tak ada jam yang benar-benar sama. Perbandingan yang berulang hanya melahirkan lelah. Ia menumbuhkan iri yang pelan menggerogoti syukur. Kita sibuk melihat ke luar, tetapi lupa menata ke dalam. Kita mengejar bayangan orang lain, lalu kehilangan arah hidup sendiri. Di tengah budaya pamer capaian dan angka kesuksesan, tekanan sosial makin terasa. Media sosial menampilkan potongan hidup terbaik orang lain. Kita lupa bahwa setiap keberhasilan punya cerita panjang yang tak selalu terlihat. Yang tampak di layar sering kali bukan keseluruhan kisah. Allah tidak membeda-bedakan manusia dari ukuran kesuksesan dunia. Jabatan, harta, dan popularitas bukan standar kemuliaan di sisi-Nya. Semua ...