Guru Terlambat bukan sekedar soal jam,tetapi soal keteladanan
Jadilah seperti matahari. Dilihat ataupun tidak, tetaplah bersinar. Ada kalanya seorang pemimpin berhadapan dengan persoalan sederhana. Namun, cara menyelesaikannya menentukan kualitas kepemimpinannya, salah satunya adalah ketika guru terlalu sering datang terlambat. Persoalan ini terlihat sederhana. Hanya soal jam kedatangan. Namun, jika dibiarkan, dampaknya dapat lebih panjang.
Guru adalah teladan bagi peserta didik, apa
yang dilakukan guru akan lebih mudah ditiru daripada sekadar nasihat yang
disampaikan, karena itu, ketepatan waktu bukan hanya, persoalan disiplin.
Ketepatan waktu merupakan bagian dari keteladanan seorang guru, lalu apa yang
sebaiknya dilakukan kepala sekolah ketika menemukan guru yang berulang kali
datang terlambat?
Apakah cukup mengatakan, “Jangan terlambat
lagi!” Bisa saja, namun, apakah kalimat itu benar-benar menyelesaikan
persoalan? Belum tentu. Kepala sekolah bukan hanya bertugas memastikan guru
datang tepat waktu. Lebih dari itu, kepala sekolah memiliki tanggung jawab
membangun budaya sekolah yang berangkat dari kesadaran.
Sebab, guru yang datang tepat waktu karena
takut ditegur berbeda dengan guru yang datang tepat waktu karena memahami
tanggung jawabnya.Yang pertama membutuhkan pengawasan, yang kedua telah
memiliki kesadaran, di sinilah kepemimpinan kepala sekolah diuji.
Jangan Mulai dari Teguran, Mulailah dari Data
Setiap pembinaan sebaiknya dimulai dari fakta,
ketika keterlambatan terjadi berulang kali, kepala sekolah perlu melihat data
kehadiran, berapa kali guru terlambat?
Kapan keterlambatan itu terjadi?
Apakah berlangsung terus-menerus atau hanya pada waktu tertentu?
Data membuat pembinaan menjadi objektif.
Guru tidak merasa sedang dihakimi berdasarkan
asumsi. Kepala sekolah pun memiliki dasar yang jelas untuk melakukan
pembicaraan, data bukan alat untuk mencari kesalahan, data adalah cermin, melalui
data, seseorang dapat melihat kebiasaan yang mungkin selama ini tidak
disadarinya.
Dialog Lebih Baik daripada Menghakimi, setelah memiliki data, langkah berikutnya
adalah dialog. Guru perlu diajak berbicara secara personal. Bukan
ditegur di depan rekan-rekannya. Kepala sekolah dapat membuka percakapan
dengan pertanyaan sederhana:
“Ibu atau Bapak, saya melihat ada beberapa kali
keterlambatan. Apakah ada kendala yang sedang dihadapi?”
Pertanyaan tersebut membuka ruang untuk
berbicara.
Bisa jadi ada persoalan keluarga.
Bisa jadi ada kendala perjalanan.
Bisa jadi ada persoalan lain yang tidak terlihat.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan
keterlambatan, mendengarkan berarti memahami akar persoalan sebelum menentukan
langkah perbaikan, pemimpin yang hanya berbicara mungkin dapat membuat orang
diam. Namun, pemimpin yang mau mendengarkan dapat membantu orang berubah.
Jangan Hanya Memberikan Nasihat, Buatlah
Kesepakatan
Setelah masalah dipahami, jangan berhenti pada
nasihat, buatlah kesepakatan perbaikan.
Misalnya, guru menyepakati waktu kedatangan
yang harus dipenuhi. Guru juga menyampaikan langkah yang akan dilakukan untuk
menghindari keterlambatan. Jika ada
kendala tertentu, kepala sekolah dapat memberikan dukungan sesuai
kewenangannya.
Komentar
Posting Komentar