5 Tipe Guru Yang Diam-Diam Bisa Merusak Rapat Sekolah

 Rapat sekolah seharusnya menjadi tempat menyatukan pikiran. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan dapat membuat rapat panjang, melelahkan, dan kehilangan arah. "Bu, rapatnya masih lama?" Pertanyaan sederhana itu kadang muncul setelah suasana rapat mulai terasa berat. Jam sudah menunjukkan siang. Kopi di atas meja mulai dingin. Agenda belum juga selesai. Sementara beberapa guru mulai melihat jam berkali-kali, bukan karena mereka tidak peduli terhadap sekolah. Mereka hanya merasa pembicaraan berputar-putar.

Ada masalah yang dibahas berulang. Ada pendapat yang tidak kunjung menemukan titik temu. Ada pula keputusan yang sebenarnya bisa diambil lebih cepat, padahal, rapat sekolah bukan sekadar rutinitas, di ruang itulah berbagai gagasan dipertemukan. Masalah dibicarakan. Program dirancang. Tanggung jawab dibagi. Keputusan diambil, namun, kualitas rapat tidak hanya ditentukan oleh pemimpin rapat.

Peserta rapat juga memiliki peran besar, tanpa disadari, ada beberapa tipe perilaku yang dapat membuat rapat kehilangan energi dan arah, bukan berarti guru yang memiliki perilaku tersebut adalah guru yang buruk.Tidak, tulisan ini justru menjadi cermin bersama.Sebab, sangat mungkin kita pernah menjadi salah satu di antaranya.

1. Guru yang Selalu Menolak Sebelum Memahami

"Sepertinya sulit, Bu." "Kayaknya tidak mungkin." "Program seperti itu sudah pernah dilakukan." Kalimat semacam ini sebenarnya tidak salah,  guru berhak menyampaikan keberatan. Bahkan, pemimpin sekolah membutuhkan kritik dari orang-orang yang berada di lapangan.Masalahnya muncul ketika penolakan datang sebelum gagasan dipahami secara utuh.belum selesai dijelaskan, sudah ditolak.

Belum dibahas kemungkinan solusinya, sudah dinyatakan tidak mungkin, kebiasaan seperti ini perlahan dapat mematikan keberanian orang lain untuk menawarkan gagasan baru. Padahal, sekolah membutuhkan budaya mencoba. Tidak semua gagasan pasti berhasil. Namun, sekolah tidak akan berkembang jika setiap gagasan selalu berhenti pada kalimat, "Tidak bisa."

Dampaknya, rapat lebih banyak menghabiskan energi untuk menjelaskan mengapa sesuatu sulit dilakukan, padahal, pertanyaan yang lebih produktif adalah: "Bagaimana agar hal itu bisa dilakukan dengan kondisi yang kita miliki?" Perbedaannya sederhana, yang pertama mencari alasan, yang kedua mencari jalan.

2. Guru yang Menguasai Hampir Seluruh Pembicaraan

Ada guru yang sangat aktif dalam rapat, hampir setiap topik memiliki komentar, setiap persoalan memiliki pendapat, keaktifan sebenarnya merupakan kekuatan, sekolah membutuhkan guru yang berani berbicara, namun, berbicara bukan berarti mengambil seluruh ruang. Ketika satu orang terlalu lama berbicara, guru lain bisa kehilangan kesempatan.

Ada yang akhirnya memilih diam, bukan karena tidak memiliki ide, mungkin mereka hanya tidak ingin memotong pembicaraan, padahal, boleh jadi ada gagasan sederhana dari guru yang diam itu. Gagasan yang justru dapat menjadi Solusi, rapat adalah ruang bersama.Karena itu, suara yang paling keras tidak seharusnya menjadi suara yang paling menentukan. Dampaknya, rapat berubah menjadi panggung beberapa orang, bukan ruang kolaborasi seluruh tim.Pemimpin rapat perlu memastikan setiap suara mendapatkan ruang yang proporsional, bukan semua orang harus berbicara Panjang, tetapi semua orang harus merasa memiliki kesempatan untuk didengar.

3. Guru yang Gemar Membawa Masalah Lama

"Ini kan dulu pernah terjadi." "Waktu itu juga hasilnya seperti itu.""Kita sudah pernah mencoba." Kalimat tersebut sering muncul ketika sekolah membicarakan program baru.

Pengalaman masa lalu memang penting, dari sanalah kita belajar, namun, pengalaman tidak boleh berubah menjadi alasan untuk berhenti melangkah, kesalahan masa lalu seharusnya menjadi data, kegagalan seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan menjadi tembok yang menghalangi setiap upaya baru.

Sekolah terus berubah, kebutuhan murid berubah, tantangan guru berubah, Kondisi masyarakat juga berubah, karena itu, solusi yang gagal tahun lalu belum tentu gagal jika dilakukan dengan pendekatan berbeda, dampaknya, rapat berubah menjadi ruang untuk mengingat kegagalan, bukan merancang perbaikan, kita boleh melihat ke belakang.

Tetapi jangan terlalu lama, sebab sekolah selalu membutuhkan langkah ke depan.

1.     Guru yang Pandai Mengkritik,

 Tetapi Tidak Menawarkan Solusi, ini tipe yang cukup sering muncul dalam berbagai forum, ketika masalah dibicarakan, komentarnya Panjang, ketika kekurangan ditemukan, kritiknya tajam. Namun, ketika ditanya, "Menurut Bapak/Ibu, apa solusinya?" suasana tiba-tiba hening, kritik memang diperlukan, tanpa kritik, organisasi sulit melakukan perbaikan, tetapi kritik akan jauh lebih bermakna ketika disertai alternatif. Kalau kita melihat jalan berlubang, jangan hanya mengatakan jalan itu rusak, jika memungkinkan, mari ikut mencari cara memperbaikinya. Begitu pula di sekolah, dampaknya, rapat menghasilkan banyak masalah baru dalam pembicaraan, tetapi sedikit solusi dalam Keputusan, karena itu, budaya rapat perlu bergeser.

Dari "Apa yang salah?"

menjadi "Apa yang bisa kita perbaiki?"

Dari "Siapa yang menyebabkan?"

menjadi "Apa yang bisa kita lakukan?"

Pertanyaan yang berbeda dapat menghasilkan budaya kerja yang berbeda.

5. Guru yang Sepakat dalam Rapat, tetapi Tidak Bergerak Setelahnya

Inilah tipe yang paling sulit terlihat. Saat rapat berlangsung, semuanya tampak baik.

"Setuju."

"Sepakat."

"Siap dilaksanakan."

Kepala sekolah pun merasa lega. Keputusan sudah diambil.

Namun, beberapa hari kemudian, program tidak bergerak, tugas belum selesai.

Informasi belum disampaikan, koordinasi belum dilakukan, ketika ditanyakan, muncul jawaban: "Saya kira yang mengerjakan orang lain."

Di sinilah kita belajar bahwa kesepakatan bukan sekadar ucapan, kesepakatan membutuhkan tanggung jawab. Rapat yang menghasilkan banyak keputusan belum tentu produktif, rapat baru bermakna ketika keputusan berubah menjadi tindakan, dampaknya, kepercayaan terhadap hasil rapat perlahan menurun, karena itu, setiap keputusan sebaiknya memiliki tiga hal. Siapa yang bertanggung jawab, apa yang dilakukan, dan kapan harus selesai.

Sesederhana itu, tetapi sering kali justru hal sederhana tersebut yang menentukan apakah rapat menghasilkan perubahan atau hanya menghasilkan notulen. Kepala Sekolah Juga Perlu Bercermin, ketika membaca lima tipe tersebut, kepala sekolah sebaiknya tidak buru-buru mencari siapa orangnya, jangan menunjuk, jangan memberi label, lebih baik bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sudah memimpin rapat dengan baik?

Apakah agenda sudah jelas?

Apakah semua guru mendapat kesempatan berbicara?

Apakah keberatan guru benar-benar didengarkan?

Apakah keputusan sudah disertai pembagian tugas?

Apakah setelah rapat ada tindak lanjut?

Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang meminta orang lain berubah, kepemimpinan juga tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang berubah. Guru yang selalu menolak mungkin membutuhkan ruang untuk menyampaikan kekhawatirannya.

Guru yang terlalu dominan mungkin membutuhkan batas waktu.

Guru yang selalu membawa masalah lama mungkin membutuhkan pengalaman baru.

Guru yang gemar mengkritik mungkin perlu dilibatkan dalam mencari solusi.

Guru yang tidak bergerak mungkin membutuhkan pembagian tugas yang lebih jelas.

Di sinilah kepala sekolah berperan, bukan sebagai orang yang paling banyak berbicara, tetapi sebagai orang yang menjaga agar pembicaraan tetap menuju tujuan.

Rapat yang Baik Bukan Rapat yang Selalu Sepakat

Ada satu hal yang perlu kita pahami, rapat yang baik bukan rapat yang semua orang selalu setuju,perbedaan pendapat justru sehat.

Guru boleh tidak setuju.

Guru boleh bertanya.

Guru boleh mengkritik.

Guru bahkan boleh mengatakan bahwa sebuah kebijakan memiliki risiko.

Yang tidak sehat adalah ketika perbedaan pendapat berubah menjadi serangan pribadi.

Yang perlu dijaga bukan keseragaman pendapat.

Yang perlu dijaga adalah kesatuan tujuan, kita mungkin berbeda cara pandang.

Namun, tujuan kita tetap sama, memberikan layanan pendidikan terbaik bagi anak-anak.

Karena itu, rapat seharusnya tidak berhenti pada:

"Pendapat saya yang paling benar." Tetapi sampai pada:

"Apa keputusan terbaik untuk kepentingan sekolah dan murid?"

Dari Rapat Menuju Gerakan, pada akhirnya, keberhasilan rapat tidak diukur dari lamanya waktu kita duduk bersama, bukan pula dari banyaknya orang yang berbicara, bahkan bukan dari tebalnya notulen yang dihasilkan. Keberhasilan rapat terlihat dari apa yang terjadi setelahnya.

Apakah ada perubahan?

Apakah ada program yang bergerak?

Apakah ada masalah yang terselesaikan?

Apakah guru merasa memiliki tanggung jawab bersama?

Jika jawabannya iya, rapat itu telah menemukan maknanya.

Sebaliknya, jika setelah rapat semuanya kembali seperti semula, mungkin kita perlu mengevaluasi cara kita berkomunikasi. Sebab sekolah tidak akan berubah hanya karena sering mengadakan rapat. Sekolah berubah ketika orang-orang di dalamnya mau bergerak bersama. Kita Semua Bisa Menjadi Salah Satu dari Lima Tipe Itu, tulisan ini bukan untuk mencari guru yang salah. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk bercermin. Barangkali suatu hari kita pernah menjadi guru yang terlalu cepat menolak. Mungkin pernah mendominasi pembicaraan. Pernah membawa persoalan lama. Pernah mengkritik tanpa solusi. Atau pernah mengatakan setuju, tetapi lupa menjalankan kesepakatan, tidak apa-apa. Kita semua sedang belajar, yang penting, setelah menyadarinya, kita mau memperbaiki diri.

Sebab rapat sekolah bukan arena untuk menentukan siapa yang menang, rapat adalah ruang untuk menemukan jalan terbaik, di sana, kepala sekolah bukan hakim. Guru bukan terdakwa, semua adalah bagian dari satu tim, dan ketika perbedaan mampu dikelola menjadi kekuatan, rapat tidak lagi sekadar agenda rutin. Ia menjadi tempat lahirnya,keputusan, keputusan melahirkan tindakan, tindakan melahirkan perubahan, dan perubahan kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi lompatan besar bagi sekolah. Pada akhirnya, sekolah yang hebat bukan dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat, sekolah yang hebat dibangun oleh orang-orang yang mampu berbeda pendapat, saling mendengarkan, lalu tetap memilih berjalan bersama.Salam Sehat dan Tetap Semangat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Raker menjadi ruang menyatukan visi dan semangat memajukan sekolah

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Awal sholat duha di sekolah