Mengapa Sekolah sulit maju?
Ketika Pemimpin Mudah Terpengaruh Kritik dan
Saran
Sekolah yang maju tidak selalu ditentukan oleh
gedung yang megah. Fasilitas yang lengkap juga bukan satu-satunya ukuran
kemajuan. Ada sekolah dengan fasilitas sederhana, tetapi mampu melahirkan
prestasi. Ada pula sekolah dengan fasilitas lengkap, tetapi perubahannya
berjalan lambat. Lalu, apa yang sebenarnya membuat sekolah sulit maju? Jawabannya
sering kali bukan terletak pada fasilitas. Hambatan terbesar justru dapat
muncul dari dalam diri warga sekolah sendiri.
Sekolah akan sulit berkembang ketika perubahan
dianggap sebagai beban. Program baru dianggap merepotkan. Evaluasi dianggap
sebagai bentuk kesalahan. Gagasan baru pun terkadang ditolak karena berbeda
dari kebiasaan lama. Padahal, kemajuan selalu membutuhkan keberanian untuk
berubah. Guru perlu terus belajar dan mengembangkan kompetensinya. Kepala
sekolah perlu terbuka terhadap masukan. Tenaga kependidikan perlu bekerja
dengan penuh tanggung jawab. Yang paling penting, seluruh warga sekolah harus
memiliki tujuan yang sama.
Ketika Pemimpin Mudah Terpengaruh
Dalam perjalanan memimpin sekolah, kritik dan
saran merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Seorang pemimpin memang
harus mau mendengarkan. Kritik dapat menjadi cermin untuk melihat kekurangan.
Saran dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki keadaan.Namun,
mendengarkan kritik tidak berarti harus mudah terpengaruh. Pemimpin tetap
membutuhkan pendirian. Ia harus mampu membedakan kritik yang membangun dengan
kritik yang lahir dari kepentingan pribadi. Tidak semua kritik harus ditolak.
Namun, tidak semua kritik pula harus langsung diikuti. Seorang pemimpin perlu
mendengarkan dengan pikiran terbuka. Setelah itu, ia harus menimbangnya dengan
bijaksana. Pertimbangannya harus berdasarkan data, aturan, kondisi nyata, dan
kepentingan peserta didik.
Di sinilah kematangan seorang pemimpin diuji. Pemimpin
yang mudah terpengaruh akan sulit menjaga arah organisasi. Hari ini mengikuti
pendapat seseorang. Besok berubah karena pendapat orang lain. Akhirnya,
keputusan bukan lagi berdiri di atas prinsip. Keputusan justru bergantung pada
siapa yang berbicara. Kondisi seperti ini dapat membuat warga sekolah
kehilangan kepastian. Program mudah berubah. Kebijakan tidak konsisten.
Kepercayaan pun perlahan dapat berkurang.
Sekolah Bukan Tempat Berjalan Sendiri
Sekolah juga sulit maju ketika setiap orang
berjalan sendiri-sendiri. Ada yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Ada yang
hanya menjalankan kewajiban. Ada pula yang lebih sibuk mempertahankan kebiasaan
lama. Komunikasi yang tidak sehat semakin memperbesar persoalan. Program
sekolah akhirnya tetap berjalan. Rapat tetap dilaksanakan. Administrasi tetap
dibuat. Namun, perubahan nyata belum tentu terjadi. Karena itu, sekolah
membutuhkan budaya kerja yang sehat. Kepala sekolah tidak mungkin bekerja
sendirian. Guru juga tidak dapat berjalan tanpa dukungan. Tenaga kependidikan
memiliki peran yang tidak kalah penting.
Komite sekolah dan orang tua pun perlu
dilibatkan dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih baik. Kemajuan
sekolah merupakan hasil kerja bersama.
Apakah Kita Benar-Benar Ingin Maju?
Ada pertanyaan sederhana yang layak kita
renungkan:
“Apakah kita benar-benar ingin sekolah maju,
atau hanya ingin sekolah terlihat berjalan?” Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana.
Namun, jawabannya membutuhkan kejujuran. Sekolah yang maju bukan sekolah yang
paling banyak programnya. Sekolah yang maju adalah sekolah yang mampu mengubah
program menjadi perubahan nyata. Perubahan itu terlihat dari peserta didik. Apakah
mereka semakin berkarakter? Apakah kemampuan literasi dan numerasinya
berkembang? Apakah mereka semakin percaya diri? Apakah mereka merasa aman dan
nyaman berada di sekolah? Jika jawabannya semakin baik, berarti sekolah sedang
bergerak maju. Sebaliknya, jika program terus bertambah tetapi peserta didik
tidak mengalami perubahan berarti, kita perlu berhenti sejenak. Kita perlu
mengevaluasi kembali apa yang sedang kita kerjakan.
Pemimpin Harus Mendengar, Tetapi Tidak
Kehilangan Arah
Menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu
benar. Pemimpin justru harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui
kekurangan. Ia harus bersedia mendengar kritik. Ia juga harus terbuka terhadap
saran. Namun, keterbukaan harus berjalan bersama keteguhan.
Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang menolak
kritik. Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mendengar tanpa
kehilangan pendirian.
Kritik dijadikan cermin. Saran dijadikan bahan
pertimbangan. Data dijadikan dasar keputusan. Kepentingan peserta didik menjadi
tujuan utama. Dengan cara itu, pemimpin tidak mudah terbawa arus. Ia tidak
mengambil keputusan karena tekanan. Ia tidak pula berubah hanya karena ingin
menyenangkan semua pihak. Sebab, menjadi pemimpin bukan tentang bagaimana
membuat semua orang selalu senang. Menjadi pemimpin adalah tentang keberanian
mengambil keputusan terbaik bagi kepentingan bersama.
Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
Pada akhirnya, kemajuan sekolah tidak dimulai
dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana. Mau
mendengar. Mau belajar. Mau menerima kritik. Mau mengakui kekurangan. Mau
bekerja sama. Dan yang paling penting, mau berubah menjadi lebih baik. Sekolah
akan maju ketika warganya berhenti saling menyalahkan. Sekolah akan berkembang
ketika semua pihak mulai bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan agar sekolah ini
menjadi lebih baik?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada
mencari siapa yang harus disalahkan. Karena sekolah adalah rumah bersama. Ketika
kepala sekolah memiliki keteguhan, guru memiliki semangat belajar, tenaga
kependidikan bekerja dengan tanggung jawab, dan seluruh warga sekolah bergerak
dalam satu tujuan, perubahan akan menemukan jalannya. Sekolah yang maju bukan
lahir dari satu orang.
Sekolah yang maju lahir dari banyak orang yang
mau bergerak bersama, berpikir terbuka, dan tetap teguh pada tujuan pendidikan.
Salam sehat dan tetap semangat.
Komentar
Posting Komentar