Ketika Kebenaran Kalah Oleh Kedekatan
Kadang, seseorang dibela bukan karena ia benar.
Ia dibela karena ia disukai, dekat, atau dianggap mampu memberikan manfaat. Begitulah
realitas yang terkadang hadir dalam kehidupan kita. Kebenaran tidak selalu
menjadi alasan utama seseorang mendapatkan pembelaan. Ada kalanya kedekatan,
perasaan, bahkan kepentingan justru lebih kuat daripada prinsip. Kita mungkin
pernah melihat seseorang melakukan kesalahan. Namun, ia tetap mendapatkan
pembelaan dari orang-orang terdekatnya.
Bukan karena tindakannya dapat dibenarkan.
Bukan pula karena bukti menunjukkan bahwa ia berada di pihak yang benar. Ia
dibela karena memiliki hubungan khusus dengan orang yang membelanya. Di sisi
lain, seseorang yang tidak memiliki kedekatan justru lebih mudah disalahkan.
Kesalahan kecil dapat dibesar-besarkan. Kekurangannya terlihat jelas. Sementara
kesalahan orang yang disukai seolah memiliki banyak alasan untuk dimaklumi. Inilah
salah satu bentuk ketidakadilan yang sering terjadi tanpa kita sadari.
Ketika Rasa Suka Mengalahkan Kebenaran Manusia memang memiliki perasaan. Kita
cenderung lebih mudah memahami orang yang kita sukai. Kita juga lebih
mudah memaafkan orang yang dekat dengan kita. Bahkan, terkadang kita rela
mencari berbagai alasan untuk membenarkan kesalahannya. Di sinilah
persoalannya. Ketika rasa suka mulai menjadi ukuran kebenaran, penilaian
kita perlahan kehilangan objektivitas. Yang benar bisa terlihat salah.
Yang salah bisa terlihat benar. Bukan karena fakta berubah, tetapi
karena cara kita melihatnya sudah dipengaruhi kepentingan dan kedekatan. Kita
akhirnya tidak lagi bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Kita justru
bertanya, “Siapa yang terlibat?”
Jika yang terlibat adalah orang yang kita
sukai, kita cenderung membelanya. Jika orang tersebut bukan bagian dari
lingkungan kita, kita bisa lebih mudah menghakimi. Padahal, kebenaran
seharusnya tidak mengenal siapa yang kita sukai. Kesalahan tetaplah kesalahan,
meskipun dilakukan oleh orang terdekat. Sebaliknya, kebaikan tetaplah kebaikan,
meskipun datang dari seseorang yang tidak kita kenal.
Membela Orang atau Membela Kebenaran? Menjadi adil memang tidak selalu mudah. Hati
sering memiliki keberpihakan. Perasaan kadang membuat kita sulit melihat
persoalan secara objektif. Namun, kedewasaan mengajarkan kita untuk
membedakan antara membela seseorang dan membela kebenaran. Membela
seseorang karena kedekatan mungkin membuatnya merasa nyaman. Tetapi membela
kebenaran dapat membuat kita dihormati. Sebab, orang yang benar-benar
peduli tidak selalu mengatakan, “Saya membelamu.” Terkadang, ia justru
berkata, “Saya sayang kepadamu, tetapi dalam hal ini kamu memang salah.” Kalimat
seperti itu mungkin terasa pahit. Namun, kejujuran yang pahit jauh lebih
berharga daripada pembelaan yang menyesatkan. Orang yang selalu
membenarkan kesalahan kita belum tentu benar-benar menyayangi kita. Bisa jadi,
ia hanya sedang menjaga kenyamanan hubungan. Sebaliknya, orang yang
berani mengingatkan kita mungkin sedang menunjukkan kepedulian yang lebih
tulus. Ia tidak ingin kita merasa benar setiap saat. Ia ingin kita
belajar menjadi lebih baik.
Ketika Kepentingan Mengalahkan Prinsip Begitulah realitas kehidupan.
Ketika kepentingan lebih kuat daripada prinsip,
kebenaran pun bisa dibuat mengikuti siapa yang sedang dibela. Hal seperti ini
dapat terjadi di mana saja. Di lingkungan keluarga, pertemanan, pekerjaan,
organisasi, bahkan dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Seseorang bisa
mendapatkan perlakuan istimewa karena kedekatan. Seseorang lainnya bisa
diabaikan karena tidak memiliki pengaruh. Pada kondisi seperti itu, keadilan
menjadi sesuatu yang relatif.
Bukan karena kebenaran berubah. Melainkan
karena manusia memilih kebenaran berdasarkan kepentingannya. Jika kebiasaan
seperti ini terus dibiarkan, kita akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih
penting daripada sekadar hubungan baik. Kita akan kehilangan kepercayaan. Sebab,
masyarakat yang sehat bukan hanya membutuhkan orang-orang yang pintar
berbicara. Kita membutuhkan orang-orang yang berani berdiri pada prinsip. Kita
membutuhkan keberanian untuk mengatakan benar ketika memang benar. Kita juga
membutuhkan keberanian untuk mengatakan salah ketika memang salah.
Jangan Takut Berdiri Sendirian Tak perlu kecewa jika kebenaran kita tidak
mendapatkan banyak suara. Kebenaran tidak selalu datang bersama
keramaian. Terkadang, memperjuangkan sesuatu yang benar justru membuat
kita berdiri sendirian. Tidak semua orang akan menyukai sikap kita.
Tidak semua orang akan memahami keputusan kita. Bahkan, orang yang merasa
dirugikan oleh kejujuran kita mungkin akan menjauh. Namun, jangan sampai
ketakutan kehilangan teman membuat kita kehilangan prinsip. Jangan
sampai keinginan untuk diterima membuat kita rela membenarkan sesuatu yang
sebenarnya salah. Lebih baik berdiri sendirian bersama kebenaran
daripada ramai-ramai berdiri di pihak yang salah hanya demi kepentingan. Sebab,
suara terbanyak belum tentu selalu benar. Dan orang yang sendirian belum
tentu berada di pihak yang salah. Pada akhirnya, hidup bukan hanya
tentang siapa yang kita bela. Hidup juga tentang prinsip apa yang kita
pegang ketika berada dalam situasi sulit.
Jangan jadikan rasa suka sebagai ukuran
kebenaran. Jangan pula menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk mengabaikan
keadilan. Belajarlah membedakan antara loyalitas dan keberpihakan yang
membutakan.Loyalitas yang sehat tidak akan meminta kita mengorbankan kebenaran.Justru
karena peduli, kita berani mengingatkan. Justru karena sayang, kita berani
mengatakan yang sebenarnya.
Sebab, ketika kepentingan mengalahkan
kebenaran, keadilan perlahan kehilangan tempatnya.
Dan ketika kebenaran selalu dikalahkan oleh
kedekatan, kita bukan hanya sedang membela seseorang. Kita sedang membiasakan
diri hidup dalam ketidakadilan. Maka, tetaplah jujur. Tetaplah adil. Tetaplah
berdiri pada prinsip, meskipun tidak banyak yang berdiri bersama kita.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan
berapa banyak orang yang berada di pihak kita. Yang paling penting adalah
apakah hati kita masih mampu berdiri di pihak yang benar.
Lebih baik sendirian bersama kebenaran,
daripada ramai-ramai bersama kesalahan.
Salam sehat dan tetap semangat.
Komentar
Posting Komentar