Jangan lupa siapa yang pernah hadir dalam hidupmu

 Kadang kita terlihat bahagia bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena sedang belajar menyembunyikan satu kekurangan. “Ya Allah, jadikan hari ini sebagai hari yang penuh berkah. Mudahkan segala hal yang sedang kami usahakan. Berikan kabar gembira untuk segala sesuatu yang sedang kami nantikan. Tenangkan hati kami dari segala kekhawatiran.” Doa seperti itu sering kali menjadi tempat kita menitipkan harapan.

Sebab, di balik senyum yang terlihat, ada kekhawatiran yang tidak selalu terlihat. Di balik kata “bahagia”, terkadang ada kekurangan yang sedang kita sembunyikan. Begitulah manusia. Kita sering terlihat kuat, meski sebenarnya sedang berjuang untuk tetap bertahan. Ketika sudah merasa kuat, kita mudah lupa siapa yang pernah menguatkan. Ketika sudah merasa cukup, kita terkadang lupa siapa yang pernah hadir ketika hidup kita belum baik-baik saja. Padahal, perjalanan menuju sebuah keadaan yang lebih baik tidak pernah benar-benar kita tempuh sendirian.

Ada Mereka yang Pernah Hadir

Ketika langkah kita masih tertatih, ada yang bersedia menemani.

Ketika hidup penuh kekurangan, ada yang memilih menguatkan.

Ketika banyak orang meragukan, ada yang tetap percaya.

Ketika kita hampir menyerah, ada yang berkata, “Bertahanlah. Kamu pasti bisa melewatinya.”

Mungkin mereka tidak pernah meminta untuk dikenang.

Mungkin mereka juga tidak pernah menghitung apa yang telah diberikan.

Namun, bukankah manusia sering lupa bahwa hidupnya hari ini dibangun dari banyak tangan yang pernah membantunya?

Ada tangan yang pernah menggenggam ketika kita hampir jatuh.

Ada hati yang pernah mendengarkan ketika tidak ada tempat untuk bercerita.

Ada doa yang pernah dipanjatkan dalam diam.

Ada orang-orang yang hadir tanpa banyak bicara, tetapi keberadaannya membuat kita mampu melewati masa sulit.

Sayangnya, ketika keadaan mulai berubah, sebagian orang justru mulai melupakan masa lalunya. Orang yang dahulu begitu dekat menjadi asing, kebaikan yang dahulu begitu berarti perlahan dianggap biasa, bahkan, orang-orang yang pernah hadir ketika hidup belum baik-baik saja seolah tidak lagi memiliki tempat dalam cerita kesuksesan hari ini.

Jangan Mengungkit, Jangan Menagih

Namun, kebaikan tidak seharusnya menjadi alat untuk menagih balasan.

Jika kita pernah membantu seseorang, jangan merasa paling berjasa.

Jika kita pernah hadir dalam kesulitannya, jangan terus mengingatkannya.

Sebab, kebaikan yang tulus tidak membutuhkan tepuk tangan.

Kita tidak perlu berkata, “Dulu aku yang membantumu.”

Kita tidak perlu menagih, “Bukankah aku pernah ada untukmu?”

Biarkan kebaikan menjadi urusan kita dengan Allah.

Sebab, manusia bisa lupa. Tetapi Allah tidak pernah lupa.

Yang perlu kita jaga bukanlah agar orang lain selalu mengingat kebaikan kita.

Yang perlu kita jaga adalah hati kita agar tetap ikhlas setelah berbuat baik.

Yang Paling Menyedihkan Bukan Tidak Dibalas

Yang paling menyedihkan bukan ketika kebaikan kita tidak dibalas.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika seseorang kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri.

Ia lupa bagaimana dulu ia berjuang.

Ia lupa bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.

Ia lupa siapa yang pernah menemaninya.

Ia lupa orang-orang yang tetap bertahan ketika dirinya belum menjadi siapa-siapa.

Lebih dari itu, ia lupa bahwa keadaan baik yang dinikmatinya hari ini juga merupakan bagian dari perjalanan panjang.

Ada perjuangan, ada air mata, ada kegagalan, ada doa,a da pertolongan.

Dan mungkin ada orang-orang yang diam-diam menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Karena itu, jangan biarkan keberhasilan membuat kita merasa lebih tinggi.

Jangan biarkan kenyamanan membuat kita meremehkan masa lalu.

Jangan biarkan rasa cukup membuat kita lupa kepada mereka yang pernah hadir ketika kita masih kekurangan. Sebab, kehidupan selalu berputar, h ari ini kita mungkin berada di atas.

Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana perjalanan hidup membawa kita esok hari.

Ketika Sudah Sampai, Tengoklah ke Belakang

Jika suatu hari kita telah sampai pada titik yang selama ini kita impikan, tengoklah sejenak ke belakang. Bukan untuk menghitung siapa yang paling berjasa. Bukan pula untuk menagih balasan. Tetapi untuk mengingat, pernah ada orang yang hadir ketika kita belum memiliki apa-apa, pernah ada yang percaya ketika kita belum menunjukkan apa-apa, pernah ada yang mendoakan ketika kita sendiri hampir kehilangan harapan. Mereka mungkin tidak lagi berada di samping kita. Jarak mungkin telah memisahkan. Keadaan mungkin telah mengubah banyak hal. Namun, kebaikan mereka tetap layak dihargai. Sebab, menjadi baik ketika kita sudah memiliki segalanya mungkin terasa mudah. Tetapi tetap rendah hati setelah berhasil melewati masa sulit adalah bentuk kedewasaan.

Tetap mengingat orang-orang yang pernah menemani ketika kita belum memiliki apa-apa adalah bentuk kemanusiaan. Dan tetap bersyukur kepada Allah atas setiap tangan yang pernah menolong adalah bagian dari menjaga hati.

Jangan Kehilangan Diri Setelah Menemukan Kesuksesan

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, bukan pula tentang siapa yang paling banyak menerima, hidup adalah tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang tahu berterima kasih, kita boleh berubah, kita boleh tumbuh, kita boleh memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Namun, jangan sampai perubahan itu membuat kita kehilangan diri sendiri. Jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa pernah berada di titik terendah.

Jangan sampai rasa cukup membuat kita lupa kepada orang-orang yang pernah membuat kita merasa cukup ketika kita belum memiliki apa-apa, jika hari ini hidup kita lebih baik, bersyukurlah. Jika hari ini doa-doa mulai menemukan jawabannya, bersyukurlah.

Jika hari ini kita sudah mampu berdiri dengan kaki sendiri, jangan lupa bahwa pernah ada seseorang yang membantu kita berdiri, tidak perlu mengungkit kebaikan,tidak perlu menagih balasan. Cukup simpan dalam hati sebuah kesadaran:

Aku pernah berada di titik itu.

Dan karena pernah merasakan sulitnya berjalan, semoga kita tidak pernah kehilangan kemampuan untuk memahami orang lain yang sedang berjuang. Sebab, manusia yang paling berharga bukanlah mereka yang tidak pernah membutuhkan orang lain.

Melainkan mereka yang setelah berhasil, tetap mengingat bahwa dirinya pernah membutuhkan banyak tangan untuk sampai di tempatnya berdiri hari ini.

Jangan lupa siapa dirimu dahulu, hanya karena hari ini hidupmu sudah lebih baik.

Semoga setiap langkah kita selalu dipenuhi keberkahan, semoga setiap usaha dimudahkan.

Semoga setiap penantian menghadirkan kabar baik. Dan semoga Allah menjaga hati kita agar tetap rendah hati, meski kehidupan telah membawa kita jauh dari masa lalu.

Salam sehat dan bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Raker menjadi ruang menyatukan visi dan semangat memajukan sekolah

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna