Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

TiTitik Terendah: Saat kita kehilangan segalanya ,lalu menemukan tuhan

  Setiap orang pernah jatuh. Ada masa ketika hidup terasa berat. Kita berdiri, tetapi seperti tidak punya pijakan. Kita berusaha, tetapi hasilnya tidak muncul. Pada titik itu, banyak orang merasa tidak punya apa-apa lagi. Di fase terendah, keheningan sering lebih bising dari keramaian. Kita mulai bertanya. Mengapa semua terasa kosong? Mengapa kekuatan yang biasanya membantu kini hilang? Lalu muncul kesadaran yang pelan tapi kuat. Kita menyadari bahwa kemampuan manusia punya batas. Kita tidak sekuat yang kita kira. Justru di titik rapuh itu, hati menjadi jujur. Ego runtuh. Keangkuhan luntur. Kita berhadapan langsung dengan diri sendiri. Dan di situlah banyak orang mendadak menengadahkan tangan. Bukan karena putus asa semata, tetapi karena akhirnya mengakui bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada Allah. Doa yang muncul dari hati yang hancur terasa berbeda. Kata-katanya sederhana. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh permintaan yang rumit. Yang ada hanya harapan yang jernih dan t...

Guru hadir di sekolah ,tapi tidak di kelas

  Kalimat itu menggambarkan ironi yang sering terjadi di sekolah. Guru terlihat hadir. Namanya tercatat. Badannya ada di lingkungan sekolah. Namun ia tidak berada di ruang yang seharusnya menjadi pusat tugasnya, yaitu kelas. Kehadiran fisik tidak selalu sejalan dengan kehadiran pedagogis. Murid melihat pintu kelas tertutup. Mereka menunggu. Mereka berharap. Namun guru yang ditunggu tidak datang ke ruang belajar. Fenomena ini muncul karena banyak sebab. Sebagian guru tersandera beban administrasi yang menumpuk. Ada yang terbebani tugas tambahan yang menghabiskan waktu. Ada juga yang kelelahan secara mental sehingga tidak mampu mengajar dengan utuh. Sebagian merasa kurang dukungan dari pimpinan. Sebagian lain terjebak rutinitas sehingga lupa pada inti profesinya. Apa pun penyebabnya, akibatnya tetap sama. Murid kehilangan pembimbing. Proses belajar berhenti. Kualitas pembelajaran merosot pelan namun pasti. Setiap menit di kelas adalah ruang tumbuh yang tidak bisa diulang. Ketika ...

Tetap Tenang,Allah Tahu Siapa Dirimu

  Jangan pedulikan apa yang dikatakan orang lain tentang dirimu. Penilaian manusia selalu terbatas. Mereka melihat dari kejauhan. Mereka menafsir dari potongan cerita. Mereka menilai dari apa yang tampak, bukan dari apa yang sebenarnya terjadi. Namun engkau tahu siapa dirimu. Engkau yang menjalani setiap langkah. Engkau yang merasakan luka, jatuh, dan bangkit. Engkau yang memahami alasan di balik setiap keputusan. Tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain dirimu sendiri. Dan yang paling utama, Allah lebih tahu keadaanmu . Ia melihat apa yang tak terlihat oleh mata manusia. Ia memahami niat yang tersembunyi di balik setiap usaha. Ia menilai dengan keadilan yang tak dipengaruhi prasangka dan komentar manusia. “Allah lebih tahu keadaanmu” berarti Tuhan memahami seluruh perjalanan batinmu. Ia mengetahui luka yang kau sembunyikan. Ia melihat perjuangan yang tidak pernah kau ceritakan. Ia memahami kelelahan yang hanya kau simpan dalam hati. “Ia melihat apa yang tak t...

Saat kesabaran menemukan balasannya.

  “Sabarmu akan terbayar. Lelahmu akan hilang. Sakitmu akan sembuh.” Kalimat itu mengingatkan kita pada satu hal penting: Tuhan tidak pernah menutup mata. Setiap jerih payah akan kembali dengan balasan yang tepat. Setiap kesabaran menyimpan nilai. Tidak ada lelah yang berdiri selamanya. Perjuangan untuk bertahan, baik di tengah kerja berat maupun ujian batin, selalu memiliki ujung. Luka yang menusuk hari ini pun tidak menetap. Ada waktu ketika sakit mereda dan jiwa kembali tegak. Pesannya sederhana namun kuat. Jangan merasa perjuanganmu lenyap begitu saja. Tidak ada usaha yang terbang ke udara. Setiap langkah disaksikan. Setiap ikhtiar dicatat. Keyakinan itulah yang menjaga kita tetap waras saat hari-hari terasa gelap. Ungkapan ini juga mengajak kita merawat harapan. Tetap bergerak. Tetap berbuat baik. Tetap jujur pada nilai hidup yang kita pegang. Sebab balasan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kadang ia datang sebagai ketenangan. Kadang ia hadir sebaga...

Cahaya Yang Menguatkan di Tengah Sunyi

  Terkadang kita memasuki fase yang terasa sepi. Kita merasa berdiri sendirian melawan pikiran, ketakutan, dan kecemasan. Dunia seolah menjauh. Suara sekitar melemah. Yang tersisa hanya diri kita dan beban yang terus menekan. Namun, di balik sunyi itu, ada benang cahaya yang tetap hadir. Cahaya ini tidak terlihat mata, tetapi nyata bagi hati yang terus berharap. Ia menghubungkan diri kita dengan langit dan menuntun hati untuk menggantungkan harapan di sana. Cahaya itu menjaga agar kita tidak rubuh saat keadaan memburuk. Cahaya itu juga menunjukkan kasih yang halus. Ia berbisik bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Ada perhatian yang selalu dekat. Ada penjagaan yang tidak pernah terputus. Ada kekuatan yang mengalir perlahan, namun pasti. Cahaya itu adalah iman yang terus menyala di dalam diri. Iman yang meneguhkan bahwa setiap langkah ada dalam pengawasan Tuhan. Iman yang mengingatkan bahwa kesedihan tidak pernah berdiri sendiri. Iman yang memastikan bahwa setiap doa me...