Guru hadir di sekolah ,tapi tidak di kelas
Kalimat itu menggambarkan ironi yang sering terjadi di sekolah. Guru terlihat hadir. Namanya tercatat. Badannya ada di lingkungan sekolah. Namun ia tidak berada di ruang yang seharusnya menjadi pusat tugasnya, yaitu kelas. Kehadiran fisik tidak selalu sejalan dengan kehadiran pedagogis. Murid melihat pintu kelas tertutup. Mereka menunggu. Mereka berharap. Namun guru yang ditunggu tidak datang ke ruang belajar.
Fenomena ini muncul karena banyak
sebab. Sebagian guru tersandera beban administrasi yang menumpuk. Ada yang
terbebani tugas tambahan yang menghabiskan waktu. Ada juga yang kelelahan
secara mental sehingga tidak mampu mengajar dengan utuh. Sebagian merasa kurang
dukungan dari pimpinan. Sebagian lain terjebak rutinitas sehingga lupa pada
inti profesinya. Apa pun penyebabnya, akibatnya tetap sama. Murid kehilangan
pembimbing. Proses belajar berhenti. Kualitas pembelajaran merosot pelan namun
pasti.
Setiap menit di kelas adalah
ruang tumbuh yang tidak bisa diulang. Ketika guru tidak masuk kelas, dampaknya
jauh lebih besar dari sekadar “jam kosong”. Murid kehilangan kesempatan belajar
yang tidak kembali. Semangat mereka menurun. Kedisiplinan melemah. Rekan guru
ikut terbebani. Lembaga sekolah kehilangan ritme. Bahkan profesionalitas ikut
dipertanyakan oleh masyarakat.
Mengajar bukan sekadar kewajiban
administratif. Mengajar adalah amanah moral. Ketika guru hadir di sekolah namun
tidak mengajar, ada nilai-nilai etika yang terabaikan. Profesi guru adalah
profesi mulia. Namun kemuliaannya hanya tampak ketika guru hadir sepenuhnya.
Hadir dengan badan. Hadir dengan hati. Hadir dengan tanggung jawab.
Karena itu, pembenahan harus
dimulai hari ini. Dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari langkah sederhana
yang sering diremehkan, yaitu masuk kelas tepat waktu. Kehadiran guru di kelas
adalah awal dari masa depan murid. Setiap detik yang diisi pembelajaran adalah
investasi yang membentuk karakter, kecerdasan, dan harapan mereka.
Komentar
Posting Komentar