Lisan adalah cermin keteladanan

 

“Berbicaralah yang baik atau diam. Jika tidak bisa memberikan manfaat dengan lisanmu, maka diamlah.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan kita pentingnya menjaga lisan. Sebab, berbicara bukan sekadar mengeluarkan kata-kata. Setiap ucapan dapat membawa manfaat, tetapi juga dapat meninggalkan luka.

Sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ucapan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disampaikan? Apakah waktunya tepat?

Jika tidak, diam bisa menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

Diam bukan berarti lemah. Diam juga bukan berarti tidak memiliki pendapat. Terkadang, diam adalah bentuk pengendalian diri dan kebijaksanaan.

“Diamnya orang berilmu lebih baik daripada bicaranya orang bodoh.”

Kalimat ini bukan berarti orang berilmu harus selalu diam. Orang berilmu justru berbicara ketika perkataannya membawa manfaat. Ia memahami kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri.

Pesan ini semakin penting di era media sosial. Kita bebas berbicara, tetapi kebebasan harus disertai tanggung jawab.

Tidak semua yang kita pikirkan harus dikatakan. Tidak semua yang kita ketahui harus diumumkan. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.

Bagi seorang guru dan pemimpin, pesan ini memiliki makna yang lebih dalam.

Lisan adalah cermin keteladanan.

Anak-anak mungkin lupa sebagian pelajaran yang kita ajarkan. Namun, mereka dapat mengingat bagaimana kita berbicara dan memperlakukan mereka.

Ketika guru berbicara santun, anak belajar kesantunan. Ketika guru menghargai orang lain, anak belajar menghargai.

Karena itu, jangan hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata. Tunjukkan kebaikan melalui cara kita berbicara.

Sebab, satu kalimat sederhana seperti “Ibu percaya kamu bisa” mungkin terdengar biasa bagi kita. Namun, bagi seorang anak, kalimat itu bisa menjadi kekuatan yang diingat sepanjang hidup.

Pada akhirnya, lisan adalah amanah.

Berbicaralah jika membawa kebaikan. Diamlah jika ucapan hanya menambah luka.

Sebab, terkadang satu kalimat bijaksana lebih berharga daripada seribu kata yang sia-sia.

Salam sehat dan tetap semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Ketika Raker menjadi ruang menyatukan visi dan semangat memajukan sekolah

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna