Jangan Merasa Lebih Tinggi

 

Pernahkah kita melihat seseorang yang begitu percaya diri karena jabatan, kekayaan, kepandaian, atau keberhasilannya? Cara bicaranya berubah. Langkahnya terasa lebih tinggi. Ia mulai memilih kepada siapa harus menghormati dan kepada siapa cukup sekadar menyapa. Tanpa disadari, keberhasilan yang seharusnya menjadi alasan untuk bersyukur justru berubah menjadi sumber kesombongan.

Padahal hidup memiliki cara yang sangat halus untuk mengingatkan manusia. Hari ini kita mungkin berada di atas. Besok keadaan bisa berubah. Hari ini kita merasa mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri. Esok, mungkin justru kita yang berdiri di depan pintu orang lain, berharap ada tangan yang bersedia menolong.

Tidak ada alasan untuk merasa lebih tinggi daripada siapa pun.

Kehidupan tidak pernah berjalan dalam garis lurus. Ia berputar seperti roda. Kadang kita berada di puncak, menikmati keberhasilan yang telah lama diperjuangkan. Namun pada waktu yang lain, kita berada di bawah, menghadapi ujian yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Banyak orang lupa bahwa kelebihan yang dimilikinya hari ini bukanlah milik yang abadi. Jabatan memiliki masa akhir. Harta dapat berkurang. Kesehatan bisa menurun. Popularitas akan berganti kepada orang lain. Bahkan usia pun terus berjalan menuju batas yang telah ditentukan.

Jika semua itu bersifat sementara, mengapa masih ada alasan untuk menyombongkan diri?

Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan. Justru ia adalah tanda kedewasaan seseorang. Orang yang rendah hati memahami bahwa keberhasilannya tidak lahir hanya dari usahanya sendiri. Ada doa orang tua yang mengiringi. Ada guru yang mengajarkan ilmu. Ada sahabat yang memberi semangat. Ada rekan kerja yang membantu. Bahkan ada begitu banyak orang yang mungkin tidak pernah disebut namanya, tetapi turut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Kesadaran inilah yang membuat seseorang tetap membumi, meski langit seolah sedang berpihak kepadanya.

Sering kali kita mengira penghormatan lahir karena jabatan. Padahal penghormatan yang paling tulus lahir dari sikap. Jabatan memang dapat membuat orang berdiri ketika kita datang. Namun kerendahan hati membuat mereka tetap menghormati kita bahkan setelah jabatan itu tidak lagi ada.

Banyak pemimpin dikenang bukan karena kursi yang pernah didudukinya, melainkan karena cara ia memperlakukan orang lain. Mereka menyapa petugas kebersihan dengan senyum yang sama hangatnya seperti saat bertemu pejabat. Mereka mendengarkan bawahan tanpa merasa lebih mulia. Mereka tidak membangun jarak dengan kesombongan, tetapi mendekatkan hati dengan ketulusan.

Sikap seperti itulah yang meninggalkan jejak panjang dalam ingatan banyak orang.

Hidup juga mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki waktunya masing-masing. Hari ini mungkin kita berjalan lebih cepat daripada orang lain. Karier kita lebih baik. Penghasilan kita lebih besar. Prestasi kita lebih banyak. Namun perjalanan hidup bukanlah perlombaan lari pendek. Ia adalah maraton panjang yang penuh kejutan.

Orang yang hari ini tertinggal belum tentu selamanya berada di belakang. Sebaliknya, mereka yang hari ini berada di depan belum tentu akan terus memimpin. Karena itu, tidak ada gunanya merendahkan orang lain hanya karena mereka sedang berada pada fase yang berbeda.

Setiap orang sedang berjuang melawan cerita yang tidak selalu terlihat.

Ada yang tersenyum sambil menahan beban ekonomi. Ada yang tetap bekerja meski sedang menghadapi masalah keluarga. Ada yang tampak biasa saja, tetapi diam-diam sedang berjuang melawan penyakit. Ada pula yang terus bangkit meski berkali-kali gagal.

Bukankah mereka layak dihormati sama seperti kita?

Kerendahan hati juga mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu kemampuan untuk terus belajar. Orang yang merasa dirinya paling hebat biasanya berhenti bertumbuh. Ia merasa sudah mengetahui semuanya. Sebaliknya, orang yang rendah hati selalu membuka ruang untuk belajar, bahkan dari seseorang yang usianya lebih muda atau kedudukannya lebih rendah.

Ilmu tidak memilih kepada siapa ia datang. Hikmah pun bisa hadir dari siapa saja.

Karena itu, jangan pernah merasa terlalu tinggi untuk mendengar, terlalu pintar untuk belajar, atau terlalu hebat untuk menerima nasihat.

Ada sebuah kenyataan yang sering terlupakan. Dalam hidup ini, tidak ada manusia yang benar-benar bisa berdiri sendiri. Cepat atau lambat, kita semua akan membutuhkan orang lain.

Suatu hari mungkin kita membutuhkan dokter ketika sakit. Kita membutuhkan petugas kebersihan agar lingkungan tetap nyaman. Kita membutuhkan guru untuk mendidik anak-anak kita. Kita membutuhkan tetangga ketika terjadi musibah. Bahkan pada akhir kehidupan, kita pun membutuhkan beberapa orang untuk mengantarkan jenazah kita ke tempat peristirahatan terakhir.

Lalu, apa yang pantas disombongkan?

Kesadaran bahwa kita saling membutuhkan seharusnya membuat kita lebih mudah menghargai setiap orang. Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur. Tidak ada manusia yang pantas direndahkan hanya karena latar belakangnya berbeda.

Nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia miliki, melainkan oleh bagaimana ia memperlakukan sesama.

Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan angka, jabatan, dan popularitas, kita membutuhkan lebih banyak orang yang memilih tetap rendah hati. Dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia tidak kekurangan orang kaya. Yang masih sangat dibutuhkan adalah orang-orang yang tetap ramah ketika sukses, tetap sederhana ketika dihormati, dan tetap menghargai orang lain meski memiliki banyak kelebihan.

Karena pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa tinggi ia pernah berdiri. Ia dikenang karena seberapa banyak hati yang pernah ia sentuh.

Maka, jika hari ini hidup sedang berpihak kepada kita, jangan biarkan keberhasilan mengubah cara kita memandang orang lain. Tetaplah rendah hati. Tetaplah ringan mengulurkan tangan. Tetaplah menghormati siapa pun tanpa melihat status dan kedudukannya.

Sebab bisa jadi, orang yang hari ini kita bantu adalah orang yang kelak menguatkan kita ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Dan bisa jadi pula, penghormatan yang paling berharga bukan datang karena kekuasaan atau kekayaan, melainkan karena ketulusan hati yang tidak pernah merasa lebih tinggi daripada siapa pun.

Sebab setinggi apa pun seseorang melangkah, pada akhirnya ia akan kembali menginjak bumi yang sama. Yang membedakan hanyalah apakah selama hidup ia meninggalkan jejak kesombongan atau jejak kebaikan.Salam Sehat dan Tetap Semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Ketika Raker menjadi ruang menyatukan visi dan semangat memajukan sekolah

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna