Saat Diam Menjadi Aduan Kepada Allah

 

Ada orang yang memilih diam saat disakiti. Ia tidak membalas, tidak melawan, bahkan tampak seolah baik-baik saja. Namun, di balik diam itu, ada riuh yang tak terlihat. Riuh dalam doa. Riuh dalam tangis yang hanya ia bawa ke hadapan Allah.

Ia memeluk lukanya sendirian. Lalu, di atas sejadah, ia menyebut satu per satu perlakuan yang ia terima. Ia tidak berteriak kepada manusia, tetapi mengadukan segalanya kepada Tuhan. Di situlah suara yang tak terdengar manusia justru menjadi paling kuat.

Diamnya bukan tanda lemah. Justru di situlah letak kekuatannya. Ia memilih tidak membalas, tetapi menyerahkan urusan kepada Yang Maha Adil.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai ucapan dan tindakan kita melukai orang lain hingga ia memilih berbicara kepada Allah tentang kita. Sebab doa orang yang tersakiti bukan sekadar keluhan. Ia lahir dari hati yang benar-benar terluka, jujur, dan tanpa kepura-puraan.

Dalam kondisi seperti itu, doa menjadi sangat kuat. Ia dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan kepasrahan. Maka, jangan pernah meremehkan air mata yang jatuh dalam sujud. Bisa jadi, di situlah keadilan sedang diminta untuk ditegakkan.

Satu ucapan kasar bisa meninggalkan luka panjang. Satu sikap yang tidak adil bisa menetap dalam ingatan. Dan luka batin adalah hal yang paling sulit dihilangkan. Ia tidak selalu tampak, tetapi terus hidup dalam hati.

Kita, sebagai manusia, tidak selalu kuat. Ada kalanya tenang, lalu kembali menangis. Ada fase teguh, lalu tiba-tiba rapuh. Rasa kecewa sering menjadi luka paling dalam, dan paling sulit benar-benar hilang.

Namun, di tengah semua itu, selalu ada jalan untuk tetap bertahan. Teruslah berdoa. Mohon pertolongan hanya kepada Allah. Doa adalah senjata orang mukmin. Ia menjadi tempat kembali saat hati tak lagi mampu menahan beban.

Jangan biarkan kesalahan dan rasa sakit menghentikan kita dari berdoa. Justru dari sanalah kekuatan tumbuh perlahan.

Pada akhirnya, pesan terpenting adalah kesadaran. Setiap tindakan kita meninggalkan jejak di hati orang lain. Dan karena luka itu sulit dihapus, maka cara terbaik adalah mencegahnya sejak awal.

Jagalah lisan. Kendalikan sikap. Perlakukan orang lain dengan baik. Bukan hanya demi hubungan sesama manusia, tetapi juga agar kita tidak menjadi alasan seseorang bersujud dalam tangis, diam-diam mengadukan kita kepada Allah.

Sebab tidak semua luka dibalas dengan kata. Sebagian memilih diam. Namun diam itu, bisa lebih nyaring dari apa pun—di hadapan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Tuhan senatiasa bersamamu

Guru pembelajar sepanjang hayat