Setiap Luka Ada Pebawarnya,Setiap Dosa Ada Pintu Taubatnya

 

Setiap luka ada penawarnya. Tidak ada rasa sakit yang Allah biarkan tanpa makna. Luka hadir bukan sekadar menyisakan perih. Ia mengajarkan kehati-hatian, kedewasaan, dan keteguhan.

Rasa sakit memang tidak selalu segera hilang. Namun di baliknya, ada ruang untuk bertumbuh. Waktu menjadi penenang. Doa menjadi penguat. Kesabaran menjadi obat yang perlahan menyembuhkan.

Dari luka, kita belajar mengenali diri. Kita memahami batas rapuh sekaligus menemukan sumber kekuatan. Luka tidak selalu melemahkan. Ia sering kali membentuk jiwa yang lebih tangguh.

Setiap dosa ada pintu taubatnya. Tidak ada manusia yang luput dari salah. Namun Allah tidak pernah menutup jalan kembali. Selama napas masih berhembus, kesempatan itu tetap terbuka.

Taubat bukan sekadar penyesalan. Taubat adalah keberanian untuk berubah. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri. Ia meminta tekad untuk memperbaiki langkah.

Dalam ajaran Islam, Allah dikenal sebagai Al-Ghafur dan At-Tawwab. Dua nama ini menegaskan keluasan kasih sayang-Nya. Keduanya bukan sekadar sebutan. Keduanya adalah janji harapan.

Al-Ghafur berarti Allah Maha Pengampun. Ia mengampuni dosa, bahkan yang berulang, selama hamba mau kembali. Ampunan-Nya tidak dibatasi banyaknya kesalahan. Tidak pula terhalang masa lalu yang kelam.

Selama nyawa belum di tenggorokan, pintu ampunan tetap terbuka. Tidak ada dosa yang lebih besar dari rahmat-Nya.

At-Tawwab berarti Allah Maha Penerima taubat. Ia bukan hanya mengampuni. Ia menerima dan membimbing hamba kembali ke jalan-Nya. Allah tidak menunggu manusia sempurna. Allah menunggu manusia sadar.

Pesan ini sangat jelas. Setiap manusia pasti pernah jatuh. Namun tidak ada yang terkunci dari rahmat-Nya. Putus asa justru menjadi kesalahan baru jika membuat kita enggan kembali.

Allah Maha Pengampun bukan berarti manusia bebas berbuat salah. Sifat ini justru mengajarkan tanggung jawab moral. Kesalahan harus diakui. Penyesalan harus tulus. Perbaikan harus nyata.

Taubat memiliki syarat. Menyesali perbuatan. Berhenti dari kesalahan. Bertekad tidak mengulanginya. Jika berkaitan dengan sesama, hak orang lain harus dikembalikan.

Di sinilah letak keindahannya. Allah tidak menilai seberapa gelap masa lalu seseorang. Allah melihat kesungguhan untuk berubah. Satu langkah mendekat kepada-Nya, dibalas dengan rahmat berlipat.

Setiap hamba selalu punya kesempatan untuk kembali. Kembali kepada fitrah. Kembali kepada kebaikan. Kembali kepada Allah.

Masa lalu tidak harus menjadi penjara. Ia bisa menjadi pelajaran. Tidak ada yang terlalu kotor untuk dibersihkan, jika sungguh ingin membersihkan diri. Selalu ada ruang bagi hati yang ingin pulang.

Selama hidup masih berjalan, kesempatan kembali selalu ada.

Salam sehat dan tetap semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Tuhan senatiasa bersamamu

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna