Saat anakku di Wisuda,Aku Belajar Tentang Iklas dan Harapan
Setiap orang tua pasti memahami rasanya.
Bahagia yang tiba-tiba penuh.
Waktu seakan berlari terlalu cepat.
Saat kabar wisuda itu datang, hatiku bergetar.
Anak bungsuku memberi tahu dengan suara tenang.
Sebulan lagi, katanya, ia akan diwisuda.
Sebagai ibu, bahagia itu sulit dijelaskan.
Ia bukan sekadar kabar kelulusan.
Ia adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh doa.
Anakku menempuh pendidikan di Universitas Negeri Semarang.
UNNES, tempat ia belajar, bertumbuh, dan menempa diri.
Mendengar kabar itu, aku dan anak keduaku langsung bersiap.
Kami pergi ke Thamrin City.
Mencari kebaya dan perlengkapan wisuda.
Langkah kami ringan, hati kami penuh harap.
Saat hari itu tiba, aku berdiri dengan dada penuh rasa.
Bukan hanya bangga, tetapi juga terharu.
Di momen itu, aku belajar tentang ikhlas dan harapan.
Aku teringat hari-hari panjang mendampingi langkahnya.
Bangun pagi, lelah, dan doa yang tak pernah putus.
Semua dijalani tanpa perhitungan, hanya cinta.
Ketika toga disematkan, aku belajar ikhlas.
Ikhlas melepas fase perjuangan yang telah selesai.
Ikhlas menerima bahwa anakku kini melangkah sendiri.
Namun di balik keikhlasan, harapan tumbuh perlahan.
Harapan agar ilmunya membawa kebaikan.
Harapan agar ia tetap rendah hati dalam pencapaian.
Wisuda bukan akhir cerita.
Ia adalah pintu menuju perjalanan baru.
Perjalanan yang harus ia tempuh dengan pilihannya sendiri.
Untuk Ade Suci, anak bungsuku tercinta.
Lulus Sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Universitas Negeri Semarang, dengan predikat cumlaude.
Alhamdulillah.
Selamat, Ade Suci, si cantik Mama dan Ayah.
Engkau teguh, kuat, dan penuh semangat.
Semoga ilmumu kelak bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga langkahmu selalu diberi arah dan keberanian.
Ayah dan Mama sangat bangga padamu.
Di hari wisudamu, kami belajar satu hal penting.
Mencintai bukan hanya menggenggam.
Tetapi juga merelakan, sambil terus mendoakan.

Komentar
Posting Komentar