Nasehat Untuk Guru Yang Mulai Lelah
Menjadi guru adalah panggilan jiwa yang tidak ringan. Ada tuntutan administrasi, perubahan kurikulum, dan harapan orang tua yang terus bertambah. Tenaga terkuras. Pikiran terbagi. Namun semua dijalani dengan ikhlas. Di sanalah kemuliaan itu sering terlupakan.
Jika hari ini Anda merasa lelah, itu bukan tanda gagal. Itu tanda
Anda telah memberi banyak energi dan hati. Lelah adalah bukti kepedulian. Guru
juga manusia yang memiliki batas. Menghadapi banyak tuntutan kerap menguras
daya. Namun di tengah keletihan, guru tetap berdiri dan berjuang.
Berilah diri Anda ruang untuk bernapas. Tidak semua hal harus
sempurna dalam satu waktu. Ingat kembali niat awal saat memilih profesi ini.
Bukan semata gaji atau jabatan. Ada keinginan untuk mengabdi dan memberi
manfaat. Niat tulus mampu mengubah lelah menjadi ibadah.
Ada anak-anak yang tumbuh karena kesabaran Anda. Ada karakter yang
terbentuk karena keteladanan Anda. Dampaknya mungkin belum terlihat hari ini.
Namun jejaknya akan tinggal lama. Guru berada di jalur ilmu yang bermanfaat.
Selama ilmu itu diamalkan, pahala akan terus mengalir, bahkan saat guru telah
pensiun atau tiada.
Istirahatlah tanpa rasa bersalah. Menjaga kesehatan fisik dan hati
bukan tanda lemahnya iman. Itu bentuk syukur atas amanah yang dititipkan. Guru
bukan malaikat. Ia butuh jeda agar tetap kuat.
Guru yang sehat hatinya akan lebih kuat menanamkan nilai kepada
muridnya. Hatinya stabil. Niatnya tulus. Pikirannya jernih. Ia tidak mengajar
dengan amarah atau beban yang menumpuk. Ia hadir dengan empati dan kesabaran.
Nilai yang ia tanamkan tidak hanya lewat kata-kata. Nilai itu
hidup dalam sikap dan keteladanan. Murid belajar bukan hanya dari materi,
tetapi dari kepribadian gurunya. Dari sanalah karakter tumbuh dan bertahan
lama.
Komentar
Posting Komentar