Belajar Menerima,Hidup Tenang dan Tetap Baik Meski Tak Terlihat
Belajar menerima adalah langkah awal menuju ketenangan batin. Tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Tidak semua doa dijawab seperti yang kita inginkan. Namun hidup tidak selalu tentang mengubah keadaan. Kadang hidup hanya meminta kita mengubah cara pandang.
Saat
hati mampu menerima, beban terasa lebih ringan. Pikiran menjadi lebih jernih.
Jiwa tidak lagi dipenuhi perlawanan yang melelahkan. Kita berhenti bertanya
“mengapa ini terjadi” dan mulai bertanya “apa yang bisa kupelajari”.
Hiduplah
dengan tenang. Tarik napas dalam-dalam. Rasakan udara memenuhi dada, lalu hembuskan
perlahan. Dalam jeda itu, ucapkan dalam hati, “Setiap apa yang Tuhan tetapkan,
itu baik.” Kalimat sederhana ini adalah latihan percaya.
Percaya
bahwa di balik yang tertunda ada penjagaan. Di balik yang hilang ada pengganti.
Di balik yang menyakitkan ada pembelajaran. Tidak semua kebaikan hadir dalam
bentuk yang kita suka. Sebagian datang dalam bentuk yang menguatkan.
Menerima
bukan berarti menyerah. Menerima adalah kedewasaan spiritual. Kita tetap
berusaha, tetapi tanpa marah pada takdir. Kita tetap melangkah, tetapi tanpa
iri pada jalan orang lain. Saat hati selaras dengan ketetapan Tuhan, hidup
terasa lebih damai.
Tidak
semua hal harus dipahami hari ini. Tidak semua cerita perlu segera dijelaskan.
Cukup diyakini bahwa Tuhan tidak pernah keliru menulis skenario hidup kita.
Dari
ketenangan itu lahir sikap berikutnya: jadilah baik meski tidak ada yang
melihat. Inilah fondasi integritas. Kebaikan sejati tidak bergantung pada
sorotan. Ia lahir dari kesadaran, bukan dari tepuk tangan.
Saat
seseorang tetap jujur tanpa pengawasan, di situlah kualitas dirinya diuji.
Tidak ada kamera. Tidak ada pujian. Hanya hati dan Tuhan yang menjadi saksi. Di
titik itu, karakter dibentuk secara murni.
Kebaikan
yang menunggu pengakuan akan mudah goyah. Namun kebaikan yang lahir dari iman
dan nurani akan bertahan. Ia tidak berubah meski situasi berubah. Ia tidak
pudar meski tidak dihargai.
Sikap
ini melatih keikhlasan. Kita belajar bahwa nilai perbuatan tidak ditentukan
manusia. Kebaikan tetap bernilai meski tidak viral. Kejujuran tetap berarti
meski tidak diumumkan.
Menjadi
baik tanpa dilihat adalah bentuk kedewasaan moral. Kita memilih benar bukan
karena takut pada manusia. Kita memilih benar karena sadar itu tanggung jawab.
Pada
akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang menyaksikan. Hidup tentang siapa yang
kita jadikan saksi tertinggi. Jika hati tenang dan Tuhan ridha, itu sudah
cukup.
Komentar
Posting Komentar