Ciri-ciri Guru Yang Kurang Empati Terhadap Sekolahnya

 

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan kondisi orang lain di lingkungan tempat kita bekerja. Dalam dunia pendidikan, empati seorang guru tak hanya ditunjukkan kepada siswanya, tetapi juga terhadap sekolah sebagai komunitas dan sistem kerja sama.Guru juga memiliki rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap kemajuan, tantangan dan nilai -nilai yang di junjung sekolah,Ia tidak hanya datang untuk mengajar,tetapi juga ikut menjaga iklim positif dan mendukung visi-misi sekolah.

Namun, dalam kenyataan, tidak semua guru memiliki empati yang kuat terhadap sekolahnya. Beberapa tanda berikut bisa menjadi cerminan kurangnya empati seorang guru terhadap lembaga tempat ia mengabdi.

A. Terlalu Sering Meninggalkan Sekolah Tanpa Koordinasi

Pelatihan memang penting untuk pengembangan profesional. Tapi jika terlalu sering meninggalkan sekolah tanpa koordinasi, dampaknya bisa negatif. Sekolah membutuhkan kehadiran guru sebagai bagian penting dari sistem. Guru yang bijak akan menyeimbangkan kebutuhan pengembangan diri dengan tanggung jawab di sekolah, termasuk memastikan tugasnya tetap berjalan saat ia tidak hadir.

B. Tidak Peduli dengan Kondisi Sekolah

Guru yang kurang empati sering tampak cuek terhadap keadaan sekolah. Ia merasa urusan kebersihan, ketertiban, atau fasilitas bukan tanggung jawabnya. Padahal, sekolah adalah rumah keduanya. Saat sekolah bersih dan tertata, proses belajar pun menjadi lebih nyaman dan menyenangkan bagi semua.

C. Enggan Terlibat dalam Kegiatan Bersama

Ada guru yang hanya fokus pada tugas pribadi dan enggan terlibat dalam kegiatan kolektif seperti rapat, kerja bakti, atau acara kebersamaan. Alasan “sibuk” sering digunakan, padahal kebersamaan adalah bagian dari tanggung jawab moral dalam membangun kultur sekolah yang positif.

D. Tidak Peka terhadap Kesulitan Rekan Kerja

Empati juga berarti mampu memahami beban dan kesulitan sesama guru. Ketika rekan kerja kewalahan, guru yang berempati akan hadir membantu atau memberi dukungan moral. Sebaliknya, guru yang kurang empati justru bersikap masa bodoh, bahkan terkadang sinis terhadap perjuangan orang lain.

E. Tidak Memberikan Kontribusi Nyata bagi Kemajuan Sekolah

Guru yang memiliki empati akan berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan agar sekolah ini lebih baik?”
Sedangkan guru yang kurang empati cenderung berpikir, “Apa yang bisa sekolah berikan untuk saya?”

Mereka lebih berorientasi pada kepentingan pribadi  seperti tunjangan, sertifikasi, atau pelatihan  tanpa menyalurkan kembali manfaatnya untuk kemajuan sekolah.

F. Sulit Diajak Kolaborasi

Kolaborasi adalah kunci keberhasilan sekolah. Guru yang kurang empati sering sulit diajak berdiskusi, tertutup terhadap ide orang lain, dan lebih suka bekerja sendiri. Sikap ini menghambat semangat gotong royong dan melemahkan sinergi tim pengajar.

G. Tidak Memiliki Rasa Bangga terhadap Sekolah Sendiri

Rasa bangga dan memiliki adalah wujud empati yang nyata. Guru yang kurang empati mudah mengeluh dan gemar membandingkan sekolahnya dengan sekolah lain. Padahal, di sanalah tempat ia berjuang, mendidik, dan memberi makna. Rasa syukur dan kebanggaan seharusnya tumbuh dari kesadaran bahwa sekolah adalah ruang untuk membentuk masa depan yang lebih baik bagi siswa.

Empati terhadap sekolah bukan sekadar hadir setiap hari. Ia tentang kepekaan, kebersamaan, dan rasa memiliki. Guru yang berempati akan menyeimbangkan antara pengembangan diri dan tanggung jawab di sekolah.

Sebaliknya, guru yang sibuk mengejar pelatihan namun lupa memberi dampak di tempat asalnya, sejatinya sedang kehilangan empati terhadap komunitas pendidikannya sendiri.Empati guru terhadap sekolah Adalah wujud kepedulian,pengertian dan keterlibatan emosional guru dalam memajukan serta menjaga lingkungan sekolah sebagai komunitas Pendidikan.

Salam sehat dan tetap semangat untuk para guru yang terus mengajar  dengan hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Tuhan senatiasa bersamamu

Guru pembelajar sepanjang hayat