Alasan Guru Enggan Menjadi Kepala Sekolah

 Menjadi kepala sekolah dulu sering dipandang sebagai puncak karier seorang guru. Sebuah promosi bergengsi yang memberi ruang untuk memimpin, dihormati, dan menentukan arah sebuah lembaga pendidikan. Namun realitas hari ini berbeda. Ketika lowongan kepala sekolah dibuka, jumlah peminat justru menurun. Banyak guru memilih mundur perlahan saat ditawari posisi tersebut.

Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Tanggung jawab kepala sekolah kini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Jabatan ini menuntut kemampuan manajerial yang kuat, kepemimpinan yang matang, dan ketegasan dalam mengelola berbagai persoalan. Kepala sekolah bukan hanya figur simbolis. Ia harus menguasai administrasi, memastikan akuntabilitas anggaran, memenuhi standar pelaporan digital, serta menjalani evaluasi kinerja yang semakin ketat.

Tekanan datang dari banyak arah. Dinas meminta laporan cepat. Orang tua menuntut pelayanan prima. Guru memerlukan bimbingan dan keputusan yang adil. Masyarakat menagih peningkatan mutu. Situasi ini membuat kursi kepala sekolah terasa penuh risiko. Banyak guru merasa tidak siap menghadapi konflik, keputusan sulit, dan tuntutan berbagai pihak.

Selain beban eksternal, ada faktor dari dalam diri. Tidak sedikit guru yang merasa khawatir kehilangan fokus pada pekerjaan mengajar yang mereka cintai. Mereka menikmati ritme kelas yang stabil dan proses belajar yang memberi makna personal. Posisi sebagai pengajar dianggap lebih jelas arahnya dan sesuai panggilan hati. Mereka merasa lebih kompeten di ruang kelas dibanding berada di meja kepemimpinan yang penuh tekanan administratif.

Faktor psikologis ikut memperkuat sikap ini. Ketakutan gagal, keraguan pada kemampuan diri, dan kecemasan menghadapi kompleksitas manajerial membuat banyak guru memilih bertahan sebagai pendidik murni. Mereka melihat bahwa penghargaan atau kompensasi jabatan kepala sekolah tidak selalu sebanding dengan beratnya tanggung jawab.

Akhirnya, pilihan untuk tetap mengajar bukan bentuk penolakan terhadap karier. Ini adalah keputusan sadar untuk menjaga integritas, kenyamanan, dan kualitas hidup. Mengajar bagi banyak guru bukan sekadar tugas, tetapi tempat mereka merasa hidup, berguna, dan berarti.

Guru enggan menukarkan kenyamanan hubungan sosial sebagai sesama pendidik,dengan beban psikologis sesama pendidik,dengan beban psikologis sebagai pemimpin yang harus selalu  benar di mata bahawan.

 Bahwa banyak guru tidak ingin kehilangan suasana kerja yang hangat dan setara bersama rekan-rekan sesama pendidik. Mereka merasa hubungan sosial dalam posisi guru jauh lebih nyaman karena tidak ada jarak hierarki. Semua bisa saling bertukar ide, bercanda, atau berdiskusi tanpa tekanan.

Ketika menjadi kepala sekolah, hubungan itu berubah. Mereka harus siap menghadapi beban psikologis sebagai pemimpin. Setiap keputusan akan dinilai. Setiap kebijakan harus benar di mata bawahan. Mereka tidak bisa lagi bersikap bebas seperti sebelumnya. Mereka harus menjaga wibawa, bersikap objektif, dan mengelola konflik. Beban mental inilah yang membuat banyak guru enggan menukar kenyamanan sosial tersebut dengan tekanan menjadi pemimpin. Salam sehat dan tetap semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Tuhan senatiasa bersamamu

Ketika disiplin lebih penting dari pada motivasi