Segala sesuatu ada ukurannya

 

Segala sesuatu ada ukurannya. Semua orang menjalani takdirnya. Jangan takut, jangan khawatir tentang dirimu, karena semua sudah diatur oleh-Nya.”
Kalimat sederhana ini menyimpan makna mendalam tentang keikhlasan dan keyakinan terhadap takdir Tuhan.

Dalam hidup, setiap peristiwa memiliki takaran dan waktunya sendiri. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Setiap langkah, keberhasilan, bahkan kegagalan, telah diatur sesuai kemampuan dan jalan hidup masing-masing. Maka, tugas manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin, lalu berserah dengan penuh percaya bahwa hasil akhirnya berada di tangan Tuhan.

Pesan ini juga mengingatkan agar kita tidak membandingkan diri dengan orang lain. Sebab setiap orang punya “ukurannya” sendiri  rezeki, ujian, keberhasilan, maupun waktu terbaiknya. Membandingkan hanya akan melahirkan iri, cemas, dan kecewa. Dengan cara pandang yang lapang, hati akan lebih tenang, hidup terasa ringan, dan rasa syukur pun tumbuh dengan tulus.

Ketika kita yakin bahwa semua sudah diatur oleh-Nya, kita tak lagi gelisah mengejar yang belum pasti. Sebaliknya, kita belajar untuk menikmati proses dan menghargai setiap fase kehidupan. Di situlah letak kedewasaan spiritual — menerima tanpa menyerah, berusaha tanpa berlebihan, dan percaya bahwa setiap takdir membawa pelajaran berharga.

Namun, di balik ketenangan itu, ada satu hal yang justru layak dicemaskan: bukan tentang dunia, melainkan tentang akhirat.
“Takut dan khawatirlah tentang urusan akhiratmu, sebab tak ada jaminan bagimu tentang hal itu.”

Kalimat ini mengandung pesan reflektif yang menggugah kesadaran. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal. Karena itu, rasa takut yang sejati bukanlah tentang harta, jabatan, atau masa depan duniawi, melainkan tentang bagaimana nasib kita di hadapan Tuhan kelak.

Tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan keselamatan di akhirat, seberapa saleh atau berilmupun ia. Semuanya bergantung pada amal, niat, dan rahmat Allah. Maka, rasa takut di sini bukan berarti gelisah tanpa arah, tetapi kesadaran spiritual agar kita terus memperbaiki diri, menjauhi maksiat, dan memperbanyak amal kebaikan.

“Cemaslah bukan karena dunia yang belum pasti, tetapi karena akhirat yang sudah pasti menanti.”

Maknanya sangat dalam.

  • Dunia yang belum pasti menggambarkan kehidupan yang serba berubah  rezeki, jabatan, kesehatan, bahkan kehidupan itu sendiri. Maka, terlalu mencemaskan dunia adalah sia-sia, karena semua di sini bersifat sementara.
  • Akhirat yang sudah pasti menanti menegaskan kepastian hidup setelah mati. Di sanalah setiap amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan tanpa bisa dihindari.

Kita seharusnya lebih khawatir jika amal kita belum cukup, bukan karena dunia belum sempurna.
Gunakanlah waktu hidup untuk memperbaiki diri, berbuat baik, dan menyiapkan bekal akhirat.

Sebab, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa siap kita menghadapi kepulangan yang pasti.

Cemaslah dengan cara yang benar  cemas untuk menjadi lebih baik di hadapan Tuhan.
Karena dunia boleh saja tidak pasti, tapi akhirat adalah kepastian yang menanti setiap jiwa.Salam hangat, sehat, dan bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

P5 di kembalikan ke kegiatan kokurikuler

Tuhan senatiasa bersamamu

Berkarya dengan hati,Belajar Dengan Makna