Kriminalisasi Guru Saat Teguran Disalah Pahami
Bangsa ini makin pandai membalikkan
logika.
Dulu,
penggaris kayu dan penghapus papan tulis di tangan guru adalah simbol kasih
sayang yang keras teguran penuh cinta untuk menegakkan akhlak. Kini, tamparan
berubah menjadi barang bukti pidana.
Seorang guru menampar
murid yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Hasilnya? Guru dipanggil
polisi. Sementara sang murid, yang jelas-jelas melanggar aturan, dipeluk kamera
televisi dan dielu-elukan sebagai “korban.” Dunia benar-benar terbalik: guru
menjadi tertuduh, dan kenakalan berubah jadi pahlawan.
Guru yang Hidup dalam
Ketakutan Baru
Kisah itu bukan satu-satunya. Di banyak sekolah, guru
kini hidup dalam ketakutan baru bukan takut salah mengajar, tapi takut disentuh
hukum hanya karena menegakkan disiplin.
Satu tamparan yang dulu bermakna peringatan, kini ditafsirkan sebagai
kekerasan.
Dan satu laporan orang tua yang dulu disampaikan sopan di ruang kepala sekolah,
kini dikirim lewat pengacara dan disiarkan di media sosial.
Betapa mudahnya hari ini menjadikan moralitas sebagai
tontonan.
Disiplin: Cinta yang Tak
Selalu Lembut
Padahal, disiplin adalah bentuk cinta yang paling
jujur.
Cinta yang tidak selalu lembut, tapi menyelamatkan.
Lee Kuan Yew pernah
berkata, “I have never understood why Western educationists were so much
against corporal punishment. It did my fellow students and me no harm.”
Ia bercerita bagaimana dirinya dirotan karena terlambat datang ke sekolah dan
tidak merasa trauma sedikit pun. Dari situ ia belajar tanggung jawab.
Begitulah Singapura dibangun: bukan di atas pujian, tapi di atas disiplin dan
rasa takut akan konsekuensi.
Sayangnya, di negeri ini, rasa takut pada aturan
dianggap kuno.
Murid yang ditegur karena merokok berani melawan.
Orang tua datang ke sekolah bukan dengan rasa malu, tapi dengan kemarahan.
Semua berlindung di balik mantra ajaib: “hak anak.”
Hak anak untuk melanggar. Hak anak untuk tidak
dihukum. Hak anak untuk kebal dari konsekuensi.
Kita sedang mencetak generasi yang peka terhadap sentuhan, tapi tumpul terhadap
tanggung jawab.
Anak yang Tak Pernah Ditegur, Dewasa yang
Tak Bisa Dikritik
Kita boleh bicara panjang lebar tentang pendidikan
humanis, tapi jangan lupa:
anak yang tak pernah ditegur akan tumbuh jadi dewasa yang tak bisa dikritik.
Ketahuilah, para orang tua dunia nyata jauh lebih
keras dari tamparan seorang guru.
Jika di sekolah saja anak tidak belajar batas, di mana lagi dia akan belajar?
Di jalanan? Di kantor tempat ia menipu absen dan mencuri waktu kerja?
Atau di parlemen, tempat banyak orang dewasa lupa malu karena tak pernah diajar
tanggung jawab?
Masalahnya bukan pada tamparan, tapi pada konteks dan
niat.
Tamparan yang lahir dari frustrasi mendidik dari cinta yang ingin menyelamatkan tidak sama dengan kekerasan yang melukai.
Ketika Teguran Dianggap Tindak Pidana
Permendikbud No. 82 Tahun
2015 memang melarang kekerasan di sekolah,
tapi hukum itu juga mengakui perlunya tindakan korektif dan disiplin yang
proporsional.
Artinya, ketegasan masih sah asal niatnya mendidik, bukan menyakiti.
Sayangnya, publik kini
terlalu sibuk memotret tangan guru,
dan lupa melihat rokok di tangan murid.
Dampak kriminalisasi guru jauh lebih berbahaya
daripada tamparan itu sendiri.
Guru trauma untuk menegur. Kepala sekolah memilih diam daripada disalahkan.
Disiplin tinggal slogan di spanduk.
Murid tahu: ancaman terbesarnya bukan kepala sekolah,
melainkan kamera ponsel yang bisa membalikkan posisi bersalah jadi korban.
Sekolah Tanpa Teguran, Bangsa Tanpa Arah
Lucunya, masyarakat yang
berteriak “stop kekerasan di sekolah”
adalah masyarakat yang sama yang mengeluh anak muda sekarang susah diatur.
Kita ingin hasil seperti Singapura, tapi menolak disiplin yang membentuk
Singapura.
Kita ingin karakter kuat, tapi menolak cara membangunnya.
Kita ingin guru dihormati, tapi tak memberi mereka ruang untuk menegakkan
hormat itu.
Dalam setiap generasi,
selalu ada guru yang keras tapi tulus.
Generasi 1970–1980-an merasakannya. Mereka bukan malaikat, tapi bukan pulmonster.
Mereka percaya: tamparan kadang lebih jujur daripada pujian.
Bahwa rasa malu lebih mendidik daripada sertifikat motivasi.
Bahwa pendidikan sejati bukan menyiapkan anak agar nyaman,
tapi agar kuat menghadapi hidup yang tak nyaman.
Bangsa yang Kehilangan Keberanian untuk
Mendidik
Hari ini, mungkin baru satu guru yang dibawa ke
polisi.
Tapi besok, bisa jadi seluruh guru berhenti menegur.
Dan saat itu terjadi, kita akan sadar:
trauma sebenarnya bukan pada anak yang ditampar,
melainkan pada bangsa yang kehilangan keberanian untuk mendidik dengan tegas.
Dulu, penggaris kayu dan lemparan penghapus di tangan
guru memang menyakitkan.
Tapi dari sakit itulah lahir generasi yang tahu batas, tahu sopan, dan tahu
malu.
Kini, rotan itu sudah hilang. Yang tersisa hanya jari telunjuk yang gemetar,
takut dilaporkan oleh muridnya sendiri.
Dan bangsa tanpa disiplin, percayalah —
bukan sedang menuju kemajuan,
melainkan sedang mendidik dirinya sendiri untuk hancur dengan cara yang sangat
lembut.
Komentar
Posting Komentar